Arsip untuk ‘Cerita Panas’ Kategori

PRIVATE TEACHER Part VI

April 29, 2008

Malam itu mbak Mar di ruang tengah nonton TV, ini saatnya beraksi. Aku gabung duduk di sebelahnya. TV menyajikan sinetron lokal kesukaannya. Gimana ya caranya memulai ? Aku bingung…
“Mbak udah punya pacar?”tanyaku
“Eh…hm… kenapa nanya-nanya?”malah balik nanya.
“Ya… pengin tahu aja. Punya ya?”
“Dulu……pernah”
“Sekarang engga ?”
“Udah putus”
“Kenapa putus?”
“Gak mau cerita ah…”
Macet lagi.
“Orang mana mbak?”
“Ada aja..mau tahu aja”
“Ya udah kalo gak mau kasih tahu…”
“Kenapa emang?”
“Saya pengin tahu kalo pacaran tuh ngapain aja…”
“Huu…. anak kecil gak boleh tahu…”
“Saya udah SMA, bukan anak kecil lagi”
“Tapi belum tujuhbelas…”
“Tahun depan udah…. Ayo dong mbak, kasih tahu ngapain aja”
“Engga ah… tahun depan aja”
“Kelamaan….”
“Emang sekarang udah punya pacar?”
“Belum….”
“Ya udah, entar aja kalo udah punya…”

Beberapa saat kemudian di layar ada adegan cowo yang hendak mencium pacarnya, tapi bibir belum sempat bertemu, adegan sudah dipotong dan….”Bersambung”. Sinetron habis.
“Mbak ciuman juga ya kalo pacaran?”tanyaku sambil menggeser pantatku mendekatinya.
Dia hanya tersenyum. Eh..manis juga senyumnya. Channel kupindah, di HBO ada filem barat.
“Iya kan ?”
“Mau tahu aja….”
“Berarti iya. Enak ya mbak?”
“Hus… anak kecil nanya macem2…”
“Ajarin saya dong mbak….”
“Mas ini nakal…..”
“Kok dari dulu panggil saya Mas melulu…. mbak kan lebih tua, panggil aja saya Didin”
“Yee… Ibu nyuruh manggil mas kok”
“Gak pa-pa. Umur mbak berapa sih?”
“20″
“Eh… tahunya selisih 4 tahun…. kirain…”
“Kirain apa?”potongnya.
“Kirain mbak baru 17″
“Ngawur….”
“Bener. mbak kelihatan lebih muda…”
Dia hanya ketawa. tapi wajahnya menyiratkan rasa senang. Kugeser lagi dudukku mendekatinya sehingga pinggulku nyaris bersentuhan dengan pinggulnya.

Macet lagi. Aku tak ada ide lagi.
“Entar kalo nyari pacar pengin kaya mbak”kataku membuka pembicaraan lagi.
“Ha…ha…masa nyari pacar kaya pembantu”
“Maksud saya…. yang manis dan seksi kaya mbak”Aku mulai masuk.
“Kaya tahu aja artinya seksi…”
“Tahu lah…”
“Emang seksi itu apa….” Dia mulai terpancing.
“Ya…. kaya mbak….”
Dia menoleh, mata bulatnya menatapku, seperti menunggu kelanjutan perkataanku.
“Dadanya….emmm…… “kataku sambil memperagakan bulatan dengan kedua telapak tangan di dadaku
Mbak Mar menunduk sekilas melihat dadanya sendiri, lalu kembali menatapku, menunggu.
“Pinggang yang kecil, dan…..”
“Dan apa?”sahutnya.
“Pantat yang bulet”kembali aku membentuk bulatan dengan tangan.
“Belajar ngerayu ya….”
“Emang…. kan hampir tujuhbelas…”
Dia kelihatan senang aku puji begitu. Pandangannya kembali ke layar TV. Kuberanikan lenganku merangkul bahunya.
“Apaan sih….”katanya sambil menepis lenganku kembali ke tempatnya semula.
“Cuman gini aja kok mbak…. gak pa-pa kan?” Kurangkul kembali bahunya. Dia diam, tak menepis tanganku. Beberapa saat berikutnya kami berdiam diri menonton filem HBO, tanganku masih merangkul, bahkan mulai mengelusi bahunya.

Saat layar menyajikan adegan sepasang bule berciuman,
“Enak ya kayanya ciuman gitu….”komentarku. Dia masih diam.
Aku nekat, dengan cepat Aku bergerak mencium bibirnya. Bibirku sempat menyentuh bibirnya yang hangat sebelum dia berontak.
“Mas ! kamu ….. “teriaknya sambil beranjak berdiri.
Lengannya kutangkap dan kutarik dia duduk kembali.
“Saya pengin cium mbak…. sebentar aja….”kataku.
“Engga !”
“Pengin ngerasain enaknya ciuman”kataku lagi. Dia diam.
“Boleh ya mbak…. bentar aja”mukaku mendekati kukanya. Aku menciumnya. Mbak Mar pasif tapi tak menolak. Kulumat bibirnya, lidahku iku menyapu-nyapu mencoba membuka bibirnya. Akhirnya terbuka juga, lidah kami bertemu. Berikutnya bibirnya mulai aktif menyambut lumatan bibirku. Nafasnya kurasakan mulai memburu. Horee…. Aku berhasil mencium mbak Mar, pembantu Tanteku…. Tidak sebentar seperti permintaanku tadi. Cukup lama, sampai penisku menegang kencang. Tentu saja seperti yang kulakukan pada Tante, otomatis tanganku ke dadanya, kuremas. Mendadak mbak Mar menepis tanganku dan lalu melepaskan ciuman. Lalu, tak terduga dia menampar pipiku. Aku kaget atas reaksinya.
“Kamu jangan kurang ajar ya….”katanya kelihatan marah. Aku gugup, bingung musti gimana menghadapi penolakan. Aku belum pernah mengalami penolakan seperti ini.
“Bukan begitu mbak…. ” Dia diam, masih terlihat marah.
“Saya udah lama perhatiin mbak….”kataku berbohong.
“Mbak gak ngerasa kan saya perhatiin….” Masih diam.
“Saya tertarik sama mbak…”Aku masih coba merayunya.
“Saya ingin pacaran sama perempuan yang baik …. selama ini mbak kan baik banget ama saya…”
“Saya ingin pacaran sama perempuan yang seksi…”
Mbak Mar menolehku
“Gak mungkin”katanya pelan.
“Apanya yang gak mungkin”
Dia tak menjawab.
“Apa salahnya kalau kita pacaran?”tanyaku sambil mulai merangkul lagi bahunya.
Masih diam.
“Apa salahnya?” Kuulang pertanyaanku. Mbak Mar menggeleng, lalu kepalanya rebah di bahuku, matanya terpejam.
Kudekati mukanya dan kucium lagi bibirnya. Mbak Mar menyambut ciumanku, bibirnya ikut melumat dan lidahnya juga ikut bermain, sedangkan penisku menggeliat lagi. Kami terus berpagutan. Tanganku tak berani lagi mampir ke dadanya, Aku hanya berani meremas-remas telapak tangannya.

Kutuntun telapak tangannya menuju selangkanganku dan kuletakkan tangannya di atas celanaku yang menggembung keras karena ulah penisku. Mbak kaget melepaskan ciuman dan menarik tangannya, matanya menatap selangkanganku. Aku tak mau kehilangan moment enaknya berciuman, kusandarkan lagi kepalanya ke lenganku dan kucium lagi bibirnya. Perlahan kutuntun lagi tangannya ke tempat semula, kemudian telapak tangannya yang sudah berada di celanaku aku remas-remas. Jadinya dia seolah meremasi penisku. Kugeserkan telapak tangan itu keatas dan kebawah, menyusuri juluran panjang penisku. Ketika tanganku melepas tangannya, dia sudah ‘pandai’ meremasi penisku sampai membuatku keenakan walaupun masih terlapisi dua lembar kain. Tanganku mengelusi bahunya.

Ciumanku turun dari bibirnya ke dagu, lalu ke lehernya. Mulutnya mulai mendesah, tampaknya dia mulai menikmati ciumanku. Kuberanikan menurunkan telapak tanganku dari bahunya menjamah dadanya. Tanganku ditepisnya. Aku sangat ingin meremasi buah dadanya yang terasa amat kenceng dan padat meskipun tak menyentuh langsung. Kuulangi lagi menjamah, ditepis lagi. Usahaku yang ketiga bahkan membuat dia melepaskan ciumanku di lehernya. Kutatap matanya seolah bertanya. Kepalanya menggeleng lemah, pandangan matanya sayu, mengingatkanku pada mata Tante kalau sudah sayu begini pasti minta aku segera masuk. Aku tak tahu kalau mbak Mar begini apakah minta dimasuki juga ?
“Kenapa mbak?”
“Tanganmu jangan nakal…”katanya pelan. Kepalaku diraihnya kembali ke lehernya. Kuciumi lehernya.
“Cuman raba-raba doang.. boleh dong mbak…”
Tak ada jawaban.
Tanganku sudah sampai di dadanya. bahkan sudah meremasnya. Tak ada lagi penolakan.
“Jangan dibuka ya…”katanya berbisik.
Tanpa gangguan Aku merabai dan meremasi buah dadanya, gantian kanan dan kiri. Dada mbak Mar memang terlihat menonjol walau ternyata bra yang dia pakai bukan model kain yang keras, lembutnya kain bra terasa oleh tanganku. Ini menunjukkan betapa kencang isinya, tak perlu topangan kain keras. Selain dagingnya yang sangat kencang, juga buah ini bulat bentuknya. Ukurannya memang tak sebesar buah dada Tante, tapi mbak Mar menang dalam hal kencangnya dibanding milik sang majikan.

Puas aku meremas-remas buah dadanya, tapi tanganku ingin langsung merasakan sekelnya daging dada mbak Mar tanpa halangan bra dan blouse-nya. Aku buka kancing blouse-nya. Mbak menepis tanganku.
“Udah dibilang jangan buka….” Dia mengangkat kepalaku dan kami berciuman lagi.
Ya sudah, kalau dia tak mau buka baju, aku saja yang mulai. Kubuka rits celanaku dan kukeluarkan penisku. Lalu tangan mbak Mar kutuntun lagi ke selangkanganku.
Mbak Mar kaget sampai melepas ciuman. Matanya turun menatapi kelaminku yang sudah tegak dengan gagahnya.
“Kamu……”
“Habis…. saya udah gak tahan mbak…..” Kubimbing telapak tangannya untuk mengocok penisku. Dia nurut, dan kami berciuman lagi. Nafasnya memburu. Tanganku kembali meremasi dadanya. Lumayanlah meskipun dari luar, daripada engga. Tapi lama sekali aku belum juga merasakan memuncak, mungkin tadi siang udah muntah begitu banyaknya.

Dia lepaskan lagi ciumannya, tangannya juga berhenti mengocok. Mbak Mar terengah-engah.
“Mbak….. dibuka bajunya ya….”
“Engga !” Lalu kembali terengah.
“Bentar aja ya mbak….aku udah gak tahan nih….”
“Kamu mo ngapain” matanya melotot.
“Pengin cium2 dada mbak…”
“Engga. Sama pacar aja saya gak sampai begini…”
“Masa sih….”
“Pokoknya engga !”katanya tegas.
“Kan kita pacaran mbak…” Kalau dibilang ini rayuan, adalah rayuan bodoh, maklum belum pengalaman pacaran.
“Pacaran apaan…”katanya.
“Ya pacaran, Aku suka ama mbak”
“Mas bukan jodoh saya”katanya kemudian setelah diam sebentar. Pernyataan yang lugu.
“Kenapa bukan”tanyaku.
“Saya kan pembantu. Masa’ majikan sama pembantu”
“Gak apa-apa kan ?”
“Lagian. ……………….. “katanya lagi.
“Lagian apa?”tanyaku.
Dia diam, lama.
“Lagian apa mbak?”kuulangi pertanyaanku.
“Mau tahu?”katanya.
“Iya dong… lagian apa”
“Punya Mas besar, punyaku kecil, berarti kita gak jodoh”katanya sambil melirik kelaminku.
Suatu pernyataan yang jujur, walaupun naif. Masa jodoh ditentukan oleh ukuran kelamin ?
Aku ketawa.
“Ketawa lagi….”katanya.
“Iya dong…. lucu sih. Masa jodoh ditentukan ama ukuran”
“Lha iya atuh…. Mas kan mau ama saya cuma main-main kan ?”
Pernyataan terakhir ini yang benar2 menohok jitu.
Yang membuka belangku.
Yang membuatku mundur tak meneruskan aksiku.

PRIVATE TEACHER Part V

April 29, 2008

Sudah tiga hari ini Aku berhasil menahan diri, sudah tiga hari ini Aku tak menyentuh Tante. Tantepun kelihatan tenang2 saja, tak coba menggodaku apalagi mengajakku berhubungan seks. Nah, hari keempat ini Aku sudah tak tahan lagi, aku sudah kepingin sekali menyetubuhinya. Sebenarnya Aku merasa tak enak sendiri selama tiga hari ini Aku seakan menjauhi Tante. Aku khawatir merasa kuacuhkan, apalagi selama tiga hari ini Tante tak berusaha mendekatiku.

Jalan untuk berbuat dosa lagi seakan begitu mudah, siang ini mbak Mar pamit keluar rumah. Aku tahu ini ketika dia turun tangga dan menuju pintu depan.
“Kemana Mbak?”sapaku.
“Mau ke tempat kakak…” Kakak dia kerja juga sebagai pembantu di luar kompleks, tak begitu jauh, hanya sekali naik kendaraan umum.
“Udah bilang Ibu kok…Mas”

Setelah Aku yakin mbak Mar sudah jauh, aku naik tangga ke kamar Tante. Kuketok pintu kamarnya.
“Siapa?” samar2 suara dari dalam.
“Didin Tante” Terdengar langkah kaki dan sejurus kemudian pintu terbuka. Tante muncul, memakai baju tidur model lengan panjang dan celana panjang yang rapat menutupi tubuhnya. Tidak seperti biasanya yang berdaster. Wajahnya terlihat kurang segar, tapi tak mengurangi nafsuku.
“Tante sakit?”
“Engga, kenapa?”
“Saya kangen…..”
“Sini peluk Tante….”
Aku memeluknya dengan erat, Aku yakin Tante merasakan penisku yang tegang terhimpit di antara tubuh kami.
Beberapa saat kami berpelukan, kucium kedua pipinya lalu bibirnya. kami berpagutan.
“Saya pengin, Tante….” bisikku.
“Pengin apa….” Aku tahu Tante hanya menggoda. Kuciumi lagi bibirnya sambil kudorong tubuhnya menuju ranjang. Tante menurut walaupun kurasakan reaksinya tak sepanas seperti biasanya. Agak ogah-ogahan, tapi Aku tak peduli, habis sudah kepingin banget….

Kutindih tubuhnya, kubukai seluruh kancing baju tidurnya, juga kaitan bra-nya. Kuciumi buah kembarnya, tak puas-puasnya. Sudah kuduga, puting itu cepat menjadi tegang. Aku makin semangat menciumi dadanya.

Saat untuk mulai tiba, Aku menelanjangi diri, tapi Tante tak melepas celana tidurnya. Biasanya sewaktu Aku membukai pakaianku Tantepun segera berbugil. Ketika tanganku bergerak mau memelorotkan celananya Tante malah mencegah. Disuruhnya Aku rebah terlentang, Tante malah bangkit duduk di sampingku. Dia ingin di atas, pikirku.

Tante belum juga berbugil, tangannya mengelusi penisku yang sudah tegang maksimum. Diraba2nya seluruh bagian batangku, juga biji2 pelirku.
“Ayo Tante ….. saya dah gak tahan….”
“Sabar ya sayang….”
OK, aku tunggu. Kunikmati rabaan tangannya pada kelaminku.
“Punyamu emang gede….. panjang lagi….”

Aku sudah tak tahan, kuulurkan tanganku menggapai karet celananya hendak kuturunkan. Tante menahan tanganku. Aneh.
“Tante gak bisa Din….”
“Kenapa Tante…. saya pengin sekarang…”
“Tante sedang mens”
Mens ? Apa pula itu….
“Kamu belum tahu?”
“Belum Tante”
Dengan singkat Tante menjelaskan tentang siklus haid pada wanita serta larangan untuk berhubungan ketika sedang mens. Walaupun sambil bicara tangan Tante tak lepas masih mengelusi penisku. kemudian tanganku diraihnya dan disusupkan ke pinggangnya dan ke bawah. Kurasakan di celana dalam Tante ada ‘ganjalan’ yang menutupi kelaminnya.
“Itu untuk menampung”jelasnya. Ditariknya tanganku keluar lagi dari celana tidurnya. Aku mengangguk-angguk bagai anak SD menerima pelajaran baru.
“Kamu pengin ya…”katanya kemudian.
“Iya Tante…. Lihat aja…”jawabku sambil memegang kelaminku yang tegak kencang dengan gagahnya.
“Kasihan….. “kata Tante sambil mengelus-elus batang kelaminku.
“Kalo mens sampai berapa lama?”tanyaku
“Biasanya Tante sekitar seminggu”
Seminggu ? Celaka, berarti masih 4 hari lagi, mana bisa Aku menunggu begitu lama ?

“Nakal ya kamu….”kata Tante seolah berbicara kepada penisku. Digenggamnya penisku kuat2.
“Auuw…”Aku berteriak kecil. Lalu dielusnya lagi.
“Pengin banget Din ?”tanyanya.
“Banget Tante….”

Tiba-tiba tubuhnya membungkuk, dan ….. bibirnya mengecup batang penisku !
“Tante….”seruku kaget. Dia tak berreaksi.
Bahkan bibirnya terus mengecupi seluruh batang penisku, termasuk kepalanya.
“Tante….”
“Ssst…. nikmati aja ya…”
Lagi-lagi dia bikin aku kaget, lidahnya kini ikut bermain. Tante menjilati kelaminku ! Aku tak sempat lagi bicara apa2, Aku sibuk menikmati jilatan lidahnya pada kelaminku. Tak lagi sempat mikir tentang kepantasan. Bayangkan, isteri Oomku menjilati penisku…. Ini pengalaman pertama !

Aku tak bisa lagi menahan mulutku untuk tak berteriak, ketika tiba-tiba kepala penisku dimasukkan ke dalam mulutnya !
“Tante….!”
Matanya sekilas melihatku, lalu kembali asyik mengulumi kepala penisku. Tak hanya kepala bahkan, separuh batangku sudah lenyap ke dalam mulutnya. Lalu ketika kepala Tante bergerak-gerak naik-turun, Aku hanya bisa mendesis-desis persis seperti orang kepedasan. Oh…. alangkah nikmatnya ….
Mau-maunya perempuan cantik ini mengemuti kelaminku….
Aku serasa melayang di awang-awang….

Lalu ketika mulai kurasakan geli-geli di situ, aku duduk bangkit.
Saatnya hampir tiba….
nyaris tiba….

Aku menggeser mundur pantatku, maksudku hendak melepas penisku dari mulutnya, seperti yang sering kulakukan kalau sedang memompa dan terasa hampir keluar, aku selalu mencabutnya.

Tapi Tante malah mengikuti gerakanku, seolah tak rela penisku lepas dari mulutnya. Sementara Aku tak bisa menahan lagi untuk “keluar” dan tak sempat mencabut. Apa boleh buat, sambil setengah berteriak :”Tante …Oooh…” Aku menyemprotkan maniku ke dalam mulut Tante !

Penisku berkedut-kedut, beberapa saat bibir Tante masih menggenggam batangku sebelum melepaskannya. Mulut Tante terkatub rapat dan tangannya menggapai tissue di meja rias, lalu dimuntahkannya cairan maniku di atas beberapa lembar tissue dan di buangnya ke kotak sampah di dekat meja rias.
“Tante …. kok…..?”
“Enak ?”tanyanya.
“Enak banget tante…. tapi Tante engga …hmm….”
“Engga apa?”
“Engga jijik…?”
“Itu salah satu variasi bercinta Din…. namanya oral-sex”
“Banyak yang belum saya tahu tentang hubungan seks, Tante, jelaskan yang lainnya dong…”
“Nanti Tante jelaskan, satu-persatu ya…”

“Udah lega sekarang?”tanyanya. Dia melirik kelaminku yang mulai turun.
Aku mengangguk.
“Mau lagi ?”tanyanya menggoda. Kakinya dibentang lebar hingga celana dalamnya yang berlapis di dalamnya tampak. Aku menubruknya, kutindih tubuhnya, dan kuciumi dadanya. Puting itu masih menegang. Kukulumi.
Tante mendesah. Tapi kemudian ditolaknya tubuhku.
“Kenapa Tante?”
“Udah ah…. ntar Tante jadi pengin….”

Aku menuruni tangga dengan perasaan enteng, nafsu yang mendesak tadi sudah tersalurkan. Walaupun tak sepuas dibandingkan dengan hubungan kelamin, tapi cukup melegakan dan aku mendapat pengalaman baru : penisku disedot-sedot sampai keluar, di mulut lagi….

***

Perasaan enteng dan lega itu ternyata tak lama bertahan. Keesok harinya kembali gelora nafsuku mendesak, tapi Aku harus menunggu 3 hari lagi. Ingin dioral lagi seperti kemarin Aku tak berani minta, sebab selain merasa tak enak aku juga merasa hanya aku yang menikmati, Tante tidak. Kalau berhubungan seks selain nikmat aku juga puas bisa membuat Tante menggelepar keenakan. Tak adil rasanya bila Aku sendiri yang puas.

Hari berikutnya ketika Aku sudah tak tahan lagi, Aku coba cium-cium dan raba-raba tubuh Tante. Tapi ya cuma itu, sebab ada mbak Mar yang sekali-kali masuk ke ruang tengah.
“Ke atas yuk Tante….”bisikku.
“Tante belum selesai Din….”
“Saya tahu Tante…. masih dua hari lagi kan…”
“Nah itu kamu udah tahu….”
Kuraih tangannya dan kuletakkan di selangkanganku.
“Tapi saya gak tahan Tante….”
Digenggamnya penisku yang tegang.
“Ih….keras banget….”
“Dioral aja Tante ….”
“Kamu harus belajar sabar ya….”
Wajahnya serius. Aku tak berani minta lagi.
“Saya kangen….”
Tante masih asyik membaca, tak komentar.
“Pengin peluk Tante….” Aku merayu
“Pengin menelanjangi Tante….”
Masih diam.
“Pengin ciumin dada Tante….” terus usaha.
Aku remas-remas buah dadanya yang masih tertutup rapat.
“Tante…..”

Tiba-tiba Tante membukai kancing blousenya, kemudian tali bra-nya diturunkan dan sebelah buah dadanya dikeluarkan dari “sarang”nya.
“Cium….”perintahnya. Tanpa membuang waktu aku langsung menciumi buah dada kenyal dan mulus itu dan mengulumi putingnya yang ternyata sudah mengeras.
“Dah…udah….”katanya sambil mendorong kepalaku.
“Ada Si Mar….”bisiknya.

***

Penantianku akhirnya berakhir, menurut perhitunganku Jumat ini Tante mens-nya selesai. Tak sabaran Aku pulang sekolah ingin segera sampai ke rumah. Ajakan teman2 untuk jalan2 ke mall aku tolak dengan berbagai alasan. Sampai di rumah Aku menunda makan siang dan cepat-cepat naik tangga menuju kamar Tante.
Tante…aku datang… kataku dalam hati.

Tanganku yang terangkat siap mengetuk pintu kamar Tante urung kulakukan. Samar2 kudengar suara2 aneh dari dalam kamar. Kutajamkan telingaku mendengarkan. Beberapa menit kemudian Aku mengerti. Suara desahan nafas dan erangan memberiku informasi bahwa Tante dan Oom sedang berhubungan seks !

Untung Aku tak jadi mengetuk pintu. Kalau tadi kuketuk, habislah Aku ! Dengan langkah hati2 Aku turun kembali menuju garasi. Benar, mobil Oom ada di situ. Tadi Aku buru2 dengan semangatnya sampai tak menyadari bahwa Oom ada di rumah. Baru kali ini Aku mendapati Oom di rumah siang hari. Tak biasa. Ada apa ? Mungkin Oom juga tak sabar menanti selesainya mens Tante sehingga pulang cepat hari ini ? Aku kalah cepat ! Sialan, Aku keduluan orang ! Orang ? Bukankah Oom adalah pemilik sah Tante ? Siapakah Aku ? Kenapa musti ngomel ? Kamu cuma keponakan yang kurang ajar. Kamu tak berhak untuk meniduri isteri Oom kamu ! Dia yang berhak !

Walaupun dengan rasa kecewa yang mendalam dan nafsu yang telah di ubun2, Aku menyadari posisiku. Aku masuk kamar ganti baju dan makan siang. Makan siang yang tak bernafsu, sama sekali tak nikmat sebelum nafsuku yang satu itu terpenuhi. Kubawa piring yang masih bersisa makanan ke belakang. Maksudku mau membuang sisa makanan ini agar tak ketahuan mBak Mar bahwa Aku membuang makanan. Biasanya Aku selalu menghabiskan makanan.

Tapi sampai di belakang ada mBak Mar sedang mencuci piring.
“Sini Mas, sekalian saya cuci…”
Apa boleh buat, kuserahkan piring sebelum Aku belum sempat membuang sisa makanan.
“Tumben gak habis….”katanya.
“Eh… iya mbak, tadi makan baso di sekolah”kataku asal, rada gugup.

Mendadak mataku tertuju ke dada mbak Mar yang sedikit terbuka. Tak ada kancing baju yang terbuka sebenarnya, hanya tepi kanan bajunya di bagian dada sedikit turun, memperlihatkan sebagian kecil bagian atas dada mbak Mar. Belum sampai ke buahnya sih, masih “jauh”, tapi penampakan ini menggambarkan betapa menggelumbungnya dada mbak Mar. Nafsuku langsung naik lagi. Selama ini sekalipun Aku tak pernah memperhatikan mbak Mar. Aku begitu mabuk dengan Tante, satu-satunya perempuan yang pernah kulihat seluruh bentuk tubuhnya. Tubuh yang sempurna. Satu-satunya perempuan yang pernah kutiduri.

Hanya karena melihat sedikit wilayah dada mbak Mar, Aku jadi memperhatikan perempuan ini. Kulitnya sawo matang seperti perempuan Jawa pada umumnya, hanya terlihat bersih untuk ukuran perempuan desa. Wilayah dada tadi sedikit lebih cerah. Wajahnya biasa-biasa saja. Tubuhnya sedikit lebih pendek dari Tante, mungkin termasuk agak tinggi dibanding pembantu2 di sekitar rumah. Ternyata, dadanya membukit, kelihatan kencang letaknya agak ke atas, dan pantatnya menonjol ke belakang dengan pinggang yang lumayan ramping. Sosok tubuh yang lumayan seksi sebetulnya. Menyesal Aku tak memperhatikan dari dulu. Atau karena Aku sedang nafsu yang sudah beberapa hari tak tersalurkan ? Mungkin saja. Yang jelas di mataku sekarang ini tubuh itu tampak seksi.

Rasanya Aku ingin menubruknya, tapi untunglah Aku masih mampu menahan diri. Tapi ya…. daripada bengong gak dapat kesempatan menyetubuhi Tante…
“Saya bantu mbak” kataku sambil melangkah mendekati dan Aku berdiri di sampingnya.
“Gak usah Mas…”katanya.
“Sekali-sekali boleh dong ngebantu”
Mbak Mar yang menggosok piring dsb, Aku yang membilasnya. Sekali-kali lenganku menyenggol lengannya. Karena tubuhku lebih tinggi kadang seolah tak sengaja lenganku menyenggol ujung dadanya. Tak nampak ada protes atau penolakan, mungkin karena dia mengira Aku tak sengaja menyenggol. Tubuhku yang lebih tinggi juga memberiku keuntungan. Kalau Aku melirik ke dadanya, wilayah yang sedikit terbuka tadi nampak lebih “luas”, bahkan tampak sebersit belahan dadanya, yang membuatku yakin dada mbak Mar memang montok. Makin membuatku senewen saja… Sayangnya, tak ada lagi piring dan peralatan dapur lain yang harus dicuci.
“Bantu apa lagi mbak”
“Udahlah…udah selesai kok”
Ada cipratan sisa makanan di pinggul mbak Mar menimbulkan ide nakal.
“Kotor nih mbak….”kataku sambil telapak tanganku membersihkannya. Tak hanya di pinggul, tanganku juga kebelakang, membersihkan setengah mengelus pantatnya. Wuuiih …. pantat mbak Mar kenceng banget. Pantat Tante memang kenceng, tapi ini lebih padet.
“Biarin lah Mas…. bentar lagi mandi”
“Mau bantu dimandiin?”
Wajah mbak Mar kaget, cuma sekejap tapi, sudah itu ketawa.
“Mulai nakal ya…”
“Atau bantuin ganti baju”
“Hus …dah…kedepan sana…”katanya.
“Gak. Mau disini aja”
“Entar Ibu ngeliat kan gak enak”
Benar juga. Seperti diingatkan, apa jadinya kalau Tante tahu Aku menggoda mbak Mar.
Aku beranjak ke depan. Tapi sebelumnya secara tiba-tiba pinggang mbak Mar aku cubit pelan.
Mbak Mar teriak, tapi kemudian mulutnya dia tutup sendiri. Lenganku dipukulnya.
“Anak kecil nakal …!”

Anak kecil ? Belum tahu dia. Memang umurku lebih muda 2 – 3 tahun dari dia, tapi soal pengalaman ?
Candaan tadi paling tidak membuatku berniat untuk lebih mendekati pembantu seksi ini, menggodanya, dan kalau mungkin menidurinya. Tapi pendekatan harus kulakukan pelan-pelan dan bartahap supaya tak ada penolakan. Lagian Aku belum yakin apakah mbak Mar mau…

Aku kembali ke ruang tengah nonton TV. Tan berapa lama kemudian Oom turun dengan pakaian yang sudah rapi. Hatiku bersorak. Kelihatannya Oom mau pergi lagi, dan Aku bisa minta “jatah”ku ke Tante…
“Eh kamu Din…. baru pulang?”
“Iya Oom…”
“Udah makan belum?”
“Sudah Oom …. barusan”
Terdengar langkah kaki di tangga, Tante turun, juga dengan pakaian rapi, dan … wah…. cantik banget! Mukanya bersemu merah dan berseri-seri. Terus terang Aku iri pada Oom yang baru saja meniduri wanita cantik ini. Tak apa-apa….toh sebentar lagi giliranku. Tapi kenapa Tante sudah berdandan rapi begini ?
Tante ke meja makan.
“Makan Din….”
“Udah Tante”
Suami isteri itu lalu makan berdua, makan siang yang terlambat karena mendahulukan “makan siang” di ranjang.

“Din…”
“Ya Oom…”
“Bentar lagi Oom mau berangkat ke Bandung, pulang Minggu sore”kata Oom
Wah….. Aku bersorak. Bayangkan, Oom ke Bandung sampai Minggu berarti nginap 2 malam, berarti dua malam Tante tak ada yang menemani, berarti aku ……..
“Tantemu ikut, jadi kamu baik-baik jaga rumah ya..”
Harapanku yang baru saja bersinar, langsung runtuh detik itu juga !
“Baik Oom, akan saya jaga baik-baik”kataku lesu.
Oom memberikan pesan-pesan apa saja yang harus dikerjakan oleh Mang Pendi, dan Tante nimbrung tentang apa yang harus dikerjakan oleh mbak Mar. Anehnya selama bicara Tante tak berani menatap mataku seperti biasanya. Mungkin dia merasa masih punya “utang” dan tak sempat membayarnya…

Selesai makan Oom menyuruh sopir untuk memasukkan traveling-bag ke dalam mobil. Oom lalu ke garasi bicara dengan sopir yang sedang mengecheck mesin mobil. AKu mendekati Tante yang sedang memberesi meja makan. Aku lihat kearah garasi, aman. Aku peluk tubuh Tante dari belakang.
“Eeehh… Din, kamu jangan ngawur”katanya pelan sambil melihat ke arah garasi.
“Saya pengin banget Tante…. pengin banget…” kuremas dadanya, Tante membiarkan, matanya tak lepas ke arah garasi.
“Gak sempet Din….”
Kudesakkan penisku yang mendadak tegang ke pantatnya.
“Iya saya tahu Tante….. “kugoyang pantatku.
Matanya terpejam dan terdengar rintihan amat pelan dari mulutnya.
“Udah Din….udah….”
Aku melepas, aku juga tahu bahayanya bila tiba-tiba Oom memasuki ruangan. AKu kembali duduk setelah dengan gemasnya meremas buah dadanya.

Untunglah tak berapa lama kemudia Oom masuk.
“Mam…. kita berangkat……”Oom melihat arlojinya. “Setengah jam lagi lah, Papa mo reply e-mail dulu”
“Okay Pap, selesaiin dulu lah…”kata Tante. Oom menaiki tangga. Komputer yang terhubung dengan internet memang yang ada di ruang kerja di lantai atas, sebelah kamar tidur.

Ini sebetulnya kesempatan bagiku untuk sekedar peluk-peluk Tante seperti tadi. Tapi Aku mikir resikonya besar, lagipula hanya akan membuatku makin tinggi tanpa sempat tersalurkan. Sabar sajalah, nanti saja kalau sepulang Tante dari Bandung.

Tiba-tiba Tante menarik tanganku, aku langsung berdiri mengikutinya masuk ke kamarku. Masih terkaget-kaget Aku ketika menutup pintu kamarku dan langsung menguncinya.
“Jangan ditutup, buka dikit aja…”kata Tante.
Tante langsung ke balik pintu dan bersender ke dinding. Tanpa perintah Aku langsung mendekatinya, dan hendak mencium bibirnya.
“Jangan cium….”
Aku baru ingat, Tante sudah berdandan. Kalau kucium lipstik di bibirnya akan habis dan akan jadi pertanyaan Oom.
Aku rabai dan remas2 dadanya. Tangan Tante lalu membuka rits celanaku dan mengeluarkan isinya. Dengan beberapa kali elusan saja penisku sudah membesar tegang dan keras siap tempur.
Lalu Tante melepaskan sendiri celana dalamnya, mengangkat roknya dan juga sebelah kakinya.
“Ayo….masukin…. gak banyak waktu….”katanya
Dan terjadilah, Aku menyetubuhi Tante dengan “standing style” seperti yang telah Aku ceritakan di awal tulisan ini ,,,,

***

Aku terbangun kaget. Rupanya Aku ketiduran setelah “standing service” dari Tante. Aku keluar kamar, mobil sudah tak ada di garasi, mereka sudah berangkat ke Bandung. Aku ke belakang panggil2 mbak Mar, tak ada. Oh… sudah jam 5 sore, mbak Mar pasti keluar rumah, biasa ngobrol antar pembantu di rumah sebelah, biasanya menjelang magrib dia pulang.

Aku duduk menghidupkan TV tapi pikiranku melayang, membayangkan kejadian siang tadi di kamarku. Tante begitu baiknya memenuhi permintaanku walaupun dengan mengambil resiko ketahuan suaminya. Idenya tadi sungguh segar dan nakal. Membayangkan itu, tak sadar penisku mulai menggeliat. Ah….. paling tidak Aku harus menunggu samapi Senin. Jadi ngapain saja Aku selama dua hari ini ?

Aha, mbak Mar !
Inilah saatnya untuk lebih mendekatinya dan merayunya. Kuputuskan untuk mulai menggodanya malam ini.
Aku menunggu dengan sabar sambil berpikir cara2 dan tahapan untuk menggodanya. Aku menemukan ide yang mungkin bisa jalan. Kucari-cari VCD di seluruh laci penyimpanan, dulu Tante pernah putar VDC yang ada adegan doggie style, tak ketemu. Atau VCD lain yang kira2 ada adegan seks-nya juga tak ketemu. Pasti disimpan Tante entah di mana, mungkin di kamarnya. Tapi Aku tak berani mancari-cari di kamarnya. Aha… mungkin besok Aku bisa pinjam teman

PRIVATE TEACHER Part IV

April 29, 2008

Terus terang Aku ragu, apakah ini sudah pada sasaran yang benar ? karena menurutku ini terlalu ke bawah.
Tapi karena didorong, Aku langsung saja menghunjam, dan mentok.
“Aauuuw….. pelan2 sayang…”teriak Tante.
“Oh… maaf Tante….”bisikku. Aha, aku dipanggil dengan “sayang”.
“Tusuk pelan-pelan ya…. punyamu gede banget sih….”
Aku lalu mendororng penisku pelan2, terasa hangat di kepala penisku. Tapi masih mentok seperti terbentur tembok.

Tante makin melebarkan bentangan kakinya, dan lalu ikut mendorong. Terasa olehku masuk ke lubang yang hangat. Ooh enaknya….
Tante melenguh
kudorong lagi.
Tante merintih.
Kulihat kepalaku sudah tenggelam.
Kudorong lagi.
Tante mengerang. Aku khawatir, jangan2 Tante kesakitan.
“Kenapa Tante….”bisikku.
“Terus aja….terus”
Akupun terus sampai seluruh batang penisku “hilang”.
Tante mendorong pinggulku menjauh, Ooh nikmatnya … kurasakan batang penisku bergesekan dengan liang vaginanya. Sampai ke leher penis, Tante menekan lagi. Benar ! memang nikmat….
Aku lalu tahu apa yang harus kuakukan, tusuk dan lalu tarik membuatku enak.

Gimana dengan Tante ?
Tubuhnya bergerak-gerak tak karuan, mulutnya menceracau tak beraturan, mata terpejam kepala mendongak.
Tubuhku dipeluknya erat sekali.
“Nanti…. kalau….mau keluar…. bilang yah…”bisiknya terpatah-patah di dekat telingaku. Aku hanya mengangguk-angguk. Aku mengerti apa yang dia maksud. Pengalaman bermasturbasi memberitahuku apa arti “keluar” itu. Keluar cairan putih dari kelaminku.

Aku terus memompa sampai suatu saat terasa amat geli-geli di penisku. Kupercepat pompaanku, saatnya hampir tiba. lalu dengan cepat Aku mencabut. Tante terkejut, wajahnya menyiratkan “tak rela” aku mencabut kelaminku. Lho…. kan Aku cuma menuruti perintahnya. Aku lalu tumpah di perut Tante, Aku bagai melayang-layang, tubuhku seperti tak menyentuh kasur….

Tapi gelinjangan tubuh Tante tak berhenti. Diraihnya tanganku dan digesek-gesekkan ke selangkangannya. Aku menuruti saja, habis bingung sih … tak tahu apa yang terjadi dengan Tante. Beberapa saat kemudian Tante menghentikan tanganku, penghentian yang tiba-tiba. Kupandangi wajahnya, menyiratkan rasa kecewa yang sangat. Aku bingung. Kudekati dia, kupeluk tubuhnya.
“Kenapa tante?”
Tante tak menjawab. Tubuhnya menunjukkan kegelisahan. Tapi lama-lama dia diam sendiri.
Mendadak aku diliputi rasa bersalah. Dengan kurangajarnya Aku berani memasukkan kelaminku ke dalam tubuh Tante. Dengan jahatnya Aku melakukan hubungan seks dengan isteri Oomku. Sekarang dia kelihatan kecewa atau bahkan marah.
“Maafkan saya Tante….”
Tante memalingkan wajah, menatapku.
“Bukan salahmu Din…. ini salah Tante sendiri…”
“Saya juga salah Tante….”
“Sudahlah…..”katanya kemudian.
“Saya sudah kurang ajar berani2nya melakukan………..”
“Ooh…. bukan itu Din, maksud Tante….. Okay Tante jelaskan ya”
“Sebelumnya Tante nanya dulu, kamu rasakan enak gak tadi?”
“Enak banget …. baru kali ini saya merasakan hubungan seks”
“Bener, ini yang pertama kali?”
“Benar Tante. Saya belum pernah”

Dia menerangkan tentang puncak hubungan seks pada lelaki dan wanita, tentang orgasme. Aku jadi mengerti kenapa aku tadi serasa melayang-layang saat Aku “keluar”. Dan akhirnya aku juga paham kenapa tadi Tante kecewa. Tante belum sampai orgasme. Mau gimana lagi, waktu tadi aku tusuk-tarik begitu enaknya, otomatis aku mempercepat gerakan supaya enaknya jadi “banyak”. Saking enaknya aku rasakan geli-geli yang luar biasa dan tak bisa kutahan.
“Kalau begitu sudah sepantasnya saya minta maaf membuat Tante tadi kecewa”kataku.
“Engga Din…. ini salah Tante. Tante lupa bahwa kamu baru pertama kali. Tante terlalu berharap tadi….”
“Baik Tante, saya tadi terlalu cepat orgasme sementara Tante belum….”
“Okay, gak pa-pa. Kan baru pertama kali, lama-lama kamu nanti akan belajar dari pengalaman….”
Belajar dari pengalaman !
Itu artinya hubungan seks dengan Tante tak hanya kali ini saja. Ini yang membuatku ber-bunga2, habis …. hubungan seks ternyata nikmat banget …. Beda jauh nikmatnya dibanding dengan kalau kulakukan sendiri dengan onani.

Dengan refleks Aku memeluk tubuh Tante dan menciumi pipinya.
“Eh…eh… ada apa ini…”
“Tanda ucapan terima kasih, Tante”
“Untuk apa?”
“Tante telah membuat saya merasakan nikmatnya hubungan seks”
“Oh iya?”
“Iya, Tante”

Aku bangkit mengambil kotak tissu, kubersihkan perut Tante dari ceceran maniku.
“Badan Tante bagus banget….”
“Ih….tahu apa kamu” Persis komentar yang tadi sewaktu Tante dengan pakaian senam.
“Putih. mulus, halus….. Mana ada yang kaya gini di kampung saya”
Tante hanya diam, entah senang atau tidak atas pujianku yang jujur.
“Di kompleks sinipun gak ada yang kaya gini”
“Emang kamu udah lihat tubuh berapa perempuan”
“Bukan begitu Tante, Gak ada yang seputih dan mulus kaya Tante…”
Tante masih diam.
“Cantik, lagi”
“Udahlah……”

Tante bangkit ke kamar mandi, lalu setelah dia keluar aku juga masuk untuk bersih2.
Tante tak langsung berpakaian seperti yang kukira, tapi masih tiduran di ranjangku dan masih telanjang bulat.
Tak bisa kubayangkan indahnya pemandangan ini. seorang wanita yang masih tergolong muda dengan tubuh yang begitu indah sedang tergolek telanjang di tempat tidurku. Aku tak jadi berpakaian seperti yang kurencanakan tadi sehabis cuci2, tapi ikut terlentang di sebelah tante.

“Din….”
“Ya Tante?”
“Kamu jangan bilang ke siapapun tentang yang kita lakukan ini ya…”
“Engga dong Tante, saya juga tahu Tante”
“Termasuk ke teman2mu”
“Pasti”
“Juga Oom kamu”
“Apalagi….”
“Okay….deal ya”
“Deal”
Hening lagi.

“Boleh saya nanya, Tante”
“ya boleh”
“Tapi ini ada hubungannya sama Oom”
“Ada apa sih”
“Tante gak marah?”
“Gimana mau marah orang belum tahu mau nanya apa”
Aku ketawa, kucium pipi Tante.
“Dah, mau nanya apa”
“Kalau sama Oom, Tante nyampe orga….. apa tadi, orgasme gak?”
Tante diam. Aku jadi menyesal menanyakan.
“Emmm…. nanti aja Tante jawab. Gak sekarang”
“Baik Tante. Gak marah kan ?”
“Enggaaa….”

“Sekarang Tante yang nanya”
“Silakan Tante”
“Kamu pernah onani?” kaget juga aku. Aku diam.
“Pernah gak?”
“Pernah Tante…. 3 kali”jawabku jujur.
“Oh iya…. Apa yang membuat kamu lakuin itu”
“Ya…. terrangsang”
“Iya Tante tahu, terangsang sama apa”
“Sama……. tapi sebelumnya saya minta maaf ya”
“Sama apa?” desaknya.
“Waktu ngeliat paha Tante….” Tak ada komentar.
“Juga dada Tante….”
Aku lalu ceritakan semua tentang selama ini yang mengintipinya.
“Tante marah ya ….”
“Engga lah. Justru tante yang mustinya minta maaf”
“Engga dong, saya yang udah kurang ajar ngintipin”
“Okaylah…. saling minta maaf” Kucium pipinya, Tante balas mencium pipiku. lalu kami berpelukan. Bungkahan halus di dadanya menekan dadaku, dan penisku mulai menggeliat. Kami lalu berpagutan, kulumat bibirnya dan kumainkan lidahnya dengan lidahku.

Tangan Tante menyusuri tepi pinggang dan pinggulku, lalu ke selangkanganku, di elus2. makin teganglah dia.
“Punyamu besar….”
“Ah masa…..”
Kuraba-raba buah dadanya, membuat penisku mengeras.
Digenggamnya penisku lalu digosok-gosok, persis seperti yang kulakukan waktu onani. Kini penisku udah benar2 keras.
“Masukin Din……”
Aku bangkit, pahanya kubentang lebar. Aku sekarang tahu apa yang harus kulakukan. Kugesek-gesek kepala penisku ke seputaran liang kelaminnya, Tante melenguh. Beberapa saat kemudian aku mulai menusuk. Tante merintih. Sesuai pengalaman tadi, aku mulai memompa. Mulut Tante menceracau. Tak seperti tadi, walaupun sudah lumayan lama aku memompa Aku belum merasakan geli-geli. Aku makin cepat. Ada pengalaman baru, rupanya enak juga kalau menusuk perlahan dan menariknya pelan2. Aku lalu membuat variasi pompaan, cepat dan pelan. Tante semakin “kacau”.

Ada pengalaman baru lagi. Tante menekan pantatku erat2 dan lalu memutar-mutar pinggulnya, membuat penisku yang didalam serasa dipelintir. Akupun tak mau kalah, membalasnya dengan “mengebor” kelaminnya. Variasi baru selain gerak tusuk cepat-lambat. Sampai mendadak kurasakan mulai geli2. Walaupun mati2an aku menahan, aku tak kuasa. Cepat2 kucabut dan aku meledak diperutnya lagi.
Kulihat wajah Tante. Aku tak bisa menebak ekspresinya. Aku rebah di atas tubuh Tante dengan lemas.

Beberapa saat kemudian….
“Tante sampai …?”bisikku.
Diam sebentar, lalu
“Belum Din… hampir, tapi kamu lebih lama dibanding tadi….”
“Tante kecewa lagi dong”masih berbisik.
“Engga Din…. Tante cukup puas kali ini….”
Tiba-tiba Tante mendorong tubuhku dan bangkit.
“Bentar lagi Si Mar dateng….”
Astaga….. Aku tak pernah memikirkannya. Untung Tante ingat …

***

Pengalaman pertama yang sungguh tak akan terlupakan seumur hidupku itu membuatku ketagihan. Seusai sekolah Aku langsung mencari Tante dan mangajaknya bersetubuh. Aku benar-benar menikmati aktivitas seks dengan isteri Oomku ini. Malahan pernah dilakukan di kamar Oom dan Tante, sebab ada mbak Mar. Tante mengalasi tempat tidurnya yang sudah ada sprei dengan selimut kecil untuk area kami berhubungannya seks. Lalu langsung mencuci selimut itu sesudahnya. Dia selalu berpesan kepadaku untuk tidak menumpahkan mani setetespun ke sprei. Untuk menghindari kecurigaan Oom.

Hari kedua dan ketiga setelah pengalaman pertamaku itu Tante belum juga berhasil mencapai orgasme. Tepatnya, Aku belum bisa membawa Tante ke puncak hubungan seks itu, padahal Aku selalu sampai. Pada hari keempat akhirnya Tante “dapat” juga.
“Kamu kok lama sih….”bisiknya Tante waktu itu.
“Engga tahu Tante….” Aku terus memompa, dengan segala variasi yang telah “kupelajari”.
Hingga suatu saat Tante memelukku dengan amat kencang, kemudian tubuhnya berkedut-kedut beraturan beberapa kali. Dikuncinya kedua kakiku dengan belitan kedua kakinya ketika Aku mulai memompa lagi segera setelah kedutannya berhenti.
“Kalau Tante sedang begitu, kamu diam aja dulu”ajarnya.
Ini pengalaman pertama bagiku untuk mengetahui bagaimana orgasme perempuan.
“Kamu udah jadi lelaki….” Lho, emangnya kemarin aku perempuan ?

“Din….”bisiknya ketika kami sedang lemas tergolek setelah orgasme yang hampir bersamaan.
“Ya Tante….”
“Kamu kok jadi minta setiap hari….”
“Habis….. enak banget….”
“Jangankan ngeliat Tante, ngebayangin aja membuat saya terrangsang…”sambungku.
“Tapi jangan sampai mengganggu sekolahmu ya…”
“Enggalah …. entar kalo nilai rapor saya turun, Tante boleh hukum saya”
“Hukuman apa?”
“Misalnya, gak boleh makan berapa hari gitu”
“Gak mau, entar kamu sakit. Lainnya?”
“Gak boleh ‘main’ berapa hari?”
“Emmm…. boleh juga”
“Atau beberapa minggu?”
“Jangan”
“Kenapa tante?”
“Entar Tante yang gak tahan…..”
Aku memeluknya. Pelukan mesra, serasa memeluk kekasih hati.

Pengalaman lain yang perlu kuceritakan adalah suatu siang Aku pulang sekolah langsung naik ke kamar Tante. Tak seperti biasanya kali ini pintunya tertutup rapat. Aku mau mengetuk ragu2, jangan2 ada Oom di dalam. Aku turun lagi tapi belum sampai bawah aku kembali naik. Penisku sudah menegang, Aku pengin sekarang juga Tante. Dengan nekatnya aku mengetuk. Tak ada reaksi. Ketuk lagi beberapa kali, juga tak ada jawaban. Nekat Aku buka pintu, tak terkunci. Kamar yang kosong. Juga tak ada selimut kecil seperti biasanya. Ranjang tertata rapi. Kemana dia? Ooh….aku meninginkannya sekarang juga.

Dengan lunglai aku turun. Sabarlah, mungkin dia lagi keluar, nanti saja kamu pasti dapat. Aku ke kamar untuk ganti baju. Begitu membuka pintu kamarku, Aku kaget setengah mati. Di kamar tidurku Tante tergolek sedang membaca majalah, telanjang bulat !
“Baru pulang…”katanya sambil senyum2 …. Kurang ajar, dia menipuku….
Aku langsung melepas seluruh pakaianku dan dengan telanjang bulat aku menyebunya.
Tante ketawa keras2….
“Tante nakal….”
“Sekali2 ganti tempat….”
Lalu kami bersetubuh.

Di tengah2 pompaan, tiba-tiba Tante mendorong tubuhku dan melepas pertautan kelamin.
“Ayo” ditariknya tanganku. Tante membuka pintu dan keluar.
“Tante” teriakku.
“Marni gak ada”
Bergandengan tangan, sama2 telanjang kami ke ruang tengah, aneh rasanya. Kupeluk tubuhnya, kudorong ke sofa.
“Sabar Din sabar….”
Dia lalu menuju ke rak dinding menghidupkan TV. Pemandangan aneh, ada wanita telanjang menghidupkan TV. Lalu dia menyalakan perangkat video. Tekan tombol ‘play’ tapi dilanjutkan tombol ‘fast forward’, Tante sedang memilih-milih adegan rupanya. Ketemu.

Di layar terpampang seorang wanita Jepang sedang menungging di atas ranjang. Lalu muncul lelaki bule telanjang bulat dengan penis yang sudah mengacung. Lelaki ini kemudian naik ke ranjang mendekati si Jepang dari arah belakang, dan lalu menusukkan kelaminnya dari arah pantat…..
Aku heran bukan main. Baru kali ini aku melihat cara hubungan seks yang Aku rasa aneh.
“Ayo… kita lakukan”ajak Tante.
Tante rebah ke karpet dan menungging, persis seperti si Jepang tadi. Aku tahu apa yang harus Aku lakukan.
kudekatkan penisku ke pantat Tante. Tangan Tante menjangkau ke belakang menggenggam penisku dan diarahkannya ke kelaminnya. Setelah kurasakan tepat Aku menusuk….

Pelajaran baru. Juga sensasi baru. Aku dengan bebas bisa sambil meremasi bukit pantatnya, atau bahkan bukit dadanya. Memompa dan memompa, variasi pelan-cepat, putar kiri-kanan, dan …
Kali ini Aku menumpahi pantat dan punggungnya, bukan perut seperti biasanya.

Kadang terpikir juga olehku, pada malam hari menjelang tidur atau ketika aku terbangun di tengah malam, bahwa perbuatanku dengan Tante ini sungguh sangat tidak pantas. Aku menyadarinya. Aku juga sadar bahwa ini adalah perbuatan terlarang dan berdosa. Oom yang begitu baiknya memberiku tempat bernaung dan membiayai sekolahku, Aku membalasnya dengan meniduri isterinya. Aku juga pernah mencoba untuk menghentikannya, tapi sosok Tante begitu sensualnya, membuatku untuk selalu ingin menubruknya.

Ketika Aku berhasil menahan diri untuk berniat tidak meniduri Tante, justru Tante yang merangsangku. Seperti tadi siang ketika Aku sedang membaca di meja belajar, Tante datang ke kamarku terus ambil kursi duduk di sebelahku ikut membaca. Pakaiannya cukup tertutup, tak ada belahan dada dan singkapan paha. Tapi aura dan aroma tubuhnya bagai magnet kuat yang menarik diriku.
“Tante wangi…”kataku jujur.
Tante tak berkomentar, malah asyik membaca buku yang sedang kupegang. Kuperhatikan halusnya pipi yang begitu dekat, di samping kupingnya tumbuh rambut yang amat halus. Tak tahan aku untuk tak menciumnya, kucium rambut2 halus itu. Tante tak berreaksi, masih asyik membaca. Kucium telinganya. Tante menghindar, matanya tak lepas dari buku. Hanya tangannya ke pahaku. Kucium pipinya. Tiba-tiba tangannya ke selangkanganku, penisku yang mulai tegang dicekal dan diremasnya kuat. Aku kaget dan mengaduh. Tante malah ngakak.

Kuraih tubuhnya dan kubopong kuletakkan ke tempat tidur. Dengan cepat kubukai seluruh pakaian yang menempel di tubuhku. Kutindih tubuhnya, kulepas kancing dasternya, kusingkirkan bra-nya, dan kuciumi buah dadanya. Puting itu lalu menegang.

Kusibakkan tepi dasternya, tanganku lalu menyusup ke celana dalamnya. Vagina hangat itu telah membasah.
Kupelorotkan celana dalam Tante dengan cepat, kubentang pahanya, dan Aku masuk. Tante melenguh. Itulah suara pertama yang keluar dari mulutnya siang ini. Dari tadi dia tak berkata sepatahpun. Lagi-lagi Aku menyetubuhi Tanteku….

PRIVATE TEACHER Part III

April 29, 2008

Rupanya kekhawatiranlah yang menang. Tak lama Aku di situ lalu masuk kamar. Tapi lagi2, di kamar godaan itu begitu kuat. Aku ingin ke ruang tengah lagi. Aku gagal menahan diri ! Aku ke belakang ingin tahu Mbak Mar lagi kerja apa. Kuurungkan niat untuk berteriak memanggil mBak Mar, takut Tante terbangun. Di dapur tak ada. Aku ke kamarnya, dan kuketok, tak ada jawaban. Kuulangi lagi, masih sunyi. Pelan kubuka kamarnya yang tak pernah terkunci. Mbak Mar tak ada. Aman…..

Aku kembali ke ruang tengah, kembali mataku melahapi paha Tante. Masih ada rasa kurang aman. Aku keluar rumah menjumpai Mang Pendi di taman depan.
“Mbak Mar kemana Mang?”
“Oh ya, dia keluar tadi, Den” Aku selalu risi orang paro-baya ini memanggilku dengan Den.
“Tadi udah pamitan ama Ibu kok”katanya lagi.
“Ibu kemana?”tanyaku ngetest.
“Di dalam ga ada?”Mang Pendi balik nanya.
“Engga tuh…”jawabku berbohong.
“Di atas kali”

Aku kembali ke dalam. Aku mengamati paha Tante dengan bebas. Penisku langsung menegang. Baru kali ini Aku tahu ternyata di paha Tante tumbuh bulu2 yang amat halus, menambah keindahannya. Aku tegang, nafas memburu. Gelisah. Lupa akan niatku yang selama ini berhasil. Ingin rasanya aku mengeluarkan penisku dan mengocoknya seperti minggu lalu. Tapi itu terlalu berbahaya.

Tiba2 Tante menggerakkan tubuhnya. Aku tercekat, celaka. Aku siap2 kabur tapi tak jadi. Cuman gerakan sebentar, terus terdengar lagi dengkuran halusnya. Gerakannya tadi malah membuka pahanya sedikit lebih lebar, sampai secuil kain putih di ujung sana tampak. Celana dalam Tante ! Ampuun …. ini menambah keteganganku. Aku malah berharap Tante bergerak lagi sehingga makin melebarkan bukaan kakinya. Aku ingin melihatnya lebih lagi.

Aku bukannya surut untuk masuk ke kamar, tapi malah semakin ingin tahu celana dalamnya lebih banyak. Dalam kondisi yang begini tegangnya mempengaruhi akal sehatku. Aku nekat. Dengan amat perlahan tanganku menggapai ujung dasternya, kemudian dengan amat hati2 dan perlahan kusingkap ke atas. Tak menemui hambatan, karena daster itu cukup longgar. Ke atas dan lebih ke atas lagi sampai celana dalam Tante tampak keseluruhannya. Bahkan sampai sedikit kulit yang bukan main putih bersih di atas celana dalam.

Celana dalam Tante yang tipis agak menerawang memberiku “pelajaran baru”. Semburat kehitaman di bawah perut Tante itu memberitahuku bahwa di kelamin perempuan ternyata tumbuh bulu2 juga. Kelaminku memang telah mulai ditumbuhi bulu, tapi aku tak tahu bahwa pada kelamin perempuan juga tumbuh. Maklumlah selama ini yang pernah kulihat hanyalah kelamin perempuan anak2 yang tentu saja polos.
Wah…. kalau saja Aku tak mampu menahan diri, celana dalam putih ini sudah Aku pelorotkan ingin tahu isinya lebih jelas.

Aku hampir saja berlari masuk kamar ketika kaki Tante bergerak lagi sebentar, lalu diam. Dengkuran halus itu yang mengurungkan niatku untuk kabur. Gerakan kaki yang menguntungkanku karena makin membuka pangkal pahanya lebih lebar. Kini selangkangan Tante tampak lebih kebawah, sampai nampak olehku lekukan persis di tengah. Aku mengerti itu jelas itu lekukan lubang kelamin, yang tak kumengerti adalah kenapa pas di lekukan itu agak membasah sehingga kain celananya nempel. Terbayang ‘kan, bagaimana gelisahnya Aku ….

Dengkuran halus berhenti, tangan Tante yang bergerak-gerak, majalah yang menutupi mukanya tersingkirkan. Dengan cepat Aku bangkit dan mundur ke dekat pintu. Tante membuka matanya, menoleh kanan-kiri lalu melihat Aku yang berpura-pura baru saja masuk pintu.
“Oooh …… “Tante menguap. “Kamu Din…..baru pulang….”katanya kemudian.
“Iya Tante”kataku agak gugup.
Tante bangkit dan cepat-cepat membetulkan rok-nya yang tersingkap. Aku melihatnya, dan celakanya, Tante menangkap mataku yang sedang menatapi bagian bawah tubuhnya. Tapi Tante biasa-biasa saja. Aku langsung masuk kamar, malu sendiri…

Di dalam kamar Aku kembali memutar “video” memori dari awal, semua yang baru Aku lihat ketika Tante tidur yang membuatku tegang lagi. Yang membuat langkah kakiku menuju kamar mandi, membuka rits celana dan “membebaskan” penisku dari himpitan celana. Kuelus-elus batang tegang ini. Lalu kuambil sabun, lalu aku membayangkan batang yang keras hangat ini menyeruak lekukan yang agak basah di selangkangan Tante…

***

Siang ini sepulang sekolah Aku kembali merapikan isi rak buku itu. Sekelompok demi sekelompok buku kuturunkan, kususun, kupisahkan dari dokumen2 lain yang bukan buku, lalu buku2 kuangkat lagi dan kususun rapi ke dalam rak. Beres, sekarang tampak lebih rapi. Puas aku memandangi hasil jerih payahku ini. Tapi … di deretan kedua dari atas agak ke kiri ada yang tampak kurang rapi. Rasanya Aku sudah merapikan bagian ini. Mungkin ada orang yang mengambil buku dari situ, bisa Oom atau Tante, atau mungkin Aku kemarin tak teliti bisa saja. Aku turunkan sekelompok buku yang susnannya kurang rapi itu untuk kurapikan lagi.

Diantara tumpukan buku2 terselip suatu majalah dengan cover mengkilap dan huruf kanji yang membuat jantungku berhenti. Aku yakin benar majalah ini kemarin tak ada disitu. Berarti ada seseorang yang menyimpannya disini sewaktu Aku sekolah tadi. Siapa ? Aku tak ambil pusing, majalah itu lebih menarik perhatianku untuk kuteliti.

Cover depan yang membuatku terkejut adalah gambar perempuan Jepang telanjang bulat. Kulitnya begitu putih dan mulus, buah dadanya yang membulat dengan puting berwarna merah jambu, pinggangnya yang ramping dan perut yang rata. Sayangnya, bagian kelaminnya tertutup oleh pahanya yang menyilang. Cuma kelihatan sedikit bulu2 bagian atas, yang membuatku makin penasaran saja.

Tapi penasaranku tak berlangsung lama, di halaman 3 cewe cover tadi tampil ‘seutuhnya’. Mataku langsung ke selangkangannya, bulu-bulu halus rapi menutupi sebagian “segitiga terbalik” di selangkangan cewe Jepun ini. Halaman berikutnya cewe telanjang tadi terlentang di selembar kain di halaman berumput, terus disampingnya berdiri cowo bule bugil dengan penis yang tegang mengacung. Penis bule tadi ukurannya mirip punyaku, hanya warnanya saja yang beda. Punya dia putih kemerahan sedangkan punyaku coklat gelap.

Aku langsung membayangkan kalau cowo itu Aku dan cewe itu Tante, bentuk tubuh cewe itu memang mirip Tante. Aku mulai berdebar-debar. Gambar berikutnya lagi cowo itu mencium buah dada cewenya dan tangan cowo itu ke selangkangan cewe. Dan ketika Aku membuka lembaran berikutnya, jantungku berdegup kencang, tanganku gemetar, nafasku sesak.

Jelas sekali penis cowo itu menusuk masuk ke liang vagina cewe Jepang. Begitu bergetarnya tubuhku sampai kurasakan semua persendian runtuh, tubuhku lemas melihat gambar yang baru pertama kali aku lihat. Menurutku masuknya penis itu terlalu ke bawah, seakan tidak pada lubang vagina. tapi di bawahnya. Itu bayanganku selama ini (di kemudian hari Aku tahu ternyata memang disitu letak liang vagina). Ini pelajaran baru bagiku. Betapa tak karuan perasaanku waktu itu, susah kugambarkan. Aku malah bingung, akhirnya kuputuskan untuk ke luar rumah, pergi tanpa tujuan ….

***

Siang itu aku sedang nonton TV di ruang tengah ketika mendengar bunyi mobil memasuki garasi. Beberapa saat kemudian Tante masuk yang lagi-lagi membuatku kaget. Tante masuk dengan pakaian senam yang ketat, mencetak seluruh “seluk-beluk” tubuhnya yang sempurna.

Di bagian atas, kedua bulatan dadanya tampil penuh dengan tonjolan mempesona. Kemudian ke bawah menyempit mempertontonkan rampingnya pinggang, dan “mendadak” melebar lagi di bagian pinggul. Sama dengan di bagian dada, bokong Tante juga tercetak bulat menonjol ke belakang. Lalu sepasang kaki panjang yang ujungnya bermuara pada selangkangan yang menggembung indah. Aku segera ingat gambar tubuh telanjang cewe Jepang. Memang mirip.
“Kenapa Din?”
Oh…. tanpa sadar aku menatapinya dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Eh…mmm… tubuh Tante bagus” begitu saja kalimatku meluncur.
Mata Tante sedikit terbelalak. Dia kaget. Jangankan dia, akupun kaget atas apa yang barusan kuucapkan.
Setelah kaget, baru aku khawatir. Aku telah bicara yang tak sepantasnya.
“Ha…ha.. tahu apa kamu” Eh, Tante malah ketawa.
Belum sempat Aku “membela diri”, Tante langsung menaiki tangga. Ampuuun ….. goyang pinggulnya, membuat penisku menggeliat, membayangkan tubuhnya seandainya tanpa pakaian. Dasar kurang ajar.

Khayalan berlanjut. Kubayangkan tubuh indah tadi terlentang di depanku tanpa pakaian. Tampak gundukan di tengah selangkangan yang diliputi oleh bulu2 halus. Kemudian ada penis besar dan panjang yang tegang, yah… itu mungkin penisku yang memasuki gundukan berbulu itu, persis seperti gambar-gambar yang kemarin kulihat, lalu …………. terdengar langkah kaki….

Tante turun dengan blouse santai dipadu dengan rok di atas lutut warna coklat gelap yang menambah putihnya kulit tubuh. Wajahnya terlihat segar, habis mandi. Dihempaskan tubuhnya ke sofa panjang.
“Huuuhhh…… capek banget”katanya.
“Kan udah sering senam Tante”
“Iya…tapi tadi high-impact-nya lama…. ampe pegel2 semua”
Tante selonjor. Roknya sedikit terangkat manampilkan sepasang paha yang makin putih dan indah.
“Mau dipijitin, Tante?” Gila, kamu berani benar Din. Kalimat itu meluncur begitu saja. Ini adalah kalimat spontan yang muncul, seperti dulu di desa kalau ayahku mengeluh pegal2. Tentu saja Tante kaget mendengarnya.
“Eh, emangnya kamu bisa?”tanyanya.
“Dulu di rumah saya suka mijitin Ayah”kataku.
“Kamu sekarang engga capek?”
“Engga Tante”
“Gak ada PR?”
“Udah selesai”
“Ya cobalah….”katanya. Diambilnya semacam bantal yang di sofa, ditaruhnya ke karpet. Lalu Tante berbarig di karpet, telungkup.

Aku mulai dari pijitan di telapak kakinya. Tentu saja tak melewatkan pemandangan indah juluran sepasang kaki putih mulus dan sedikit paha belakang.
“Ehmmm…. enak juga pijitanmu”katanya.
Kedua telapak kaki selesai, aku ke pergelangan kaki.
Untuk pertama kalinya Aku menyentuh kulitnya yang begitu haluuuus. Lalu ke betis. Tante begitu menikmati pijatanku. Jelas saja Aku juga menikmati halus dan lembutnya sepasang betis Tante. Ini sudah cukup membuat penisku menegang.

Dari betis kuberanikan diriku untuk menjamah bagian tubuh di atas lutut. Bagian belakang lutut memang tak boleh dipijat, begitu kata ayahku. Ah…. padat banget pahanya. Mungkin karena Tante rajin senam. Amboi …. gundukan pantatnya itu…. Batangku sudah keras. Tanganku makin ke atas. Tak ada keberatan dari Tante. Bahkan ketika aku ke atas lagi yang tentu saja harus menerobos roknya, Tante tak melarang. Tapi Aku tak berani sampai pangkalnya. Aku kembali ke bawah, terus ke atas lagi. Tak sampai ke pangkal pahanya aku kembali ke bawah lagi. Roknya terangkat lagi sedikit. Begitu terus berulang-ulang. Tapi aku ingin melihat celana dalamnya seperti minggu lalu. Aku tak punya keberanian untuk mengangkat roknya lebih ke atas.
“Udah Din…. masa di situ terus…”kata Tante tiba2.
Ini menyadarkanku, memang dari tadi aku terus-menerus memijiti pahanya.
“Mana lagi tante?”
“Kamu capek gak?”
“Ah engga Tante, kalo mijitin ayah sampai sejam lebih”
“Ya udah, punggung Tante ya…”

Aku mulai dari bahunya seperti kalo aku mijit ayahku. Tentu saja sekarang jari2ku tak langsung merasai kulit punggungnya seperti tadi di kaki dan paha. Masih terhalang selembar blouse. Aku tak berani menyingkapnya. Padahal pengin banget merasai halusnya kulit punggung Tanteku ini. Lalu ke belikat. Kadang dengan kelima jari, kadang menekan-nekan dengan jempol saja. Tante menggeliat-geliat keenakan. Di bagian punggung jari2ku merasakan beha belakang Tante, yang membuatku membayangkan depannya, dan penisku menegang lagi. Waktu menekan-nekan dengan jempol, jariku yang lain merasakan beha bagian sampingnya, bahkan sempat merasakan kepadatan sebagian daging di dalamnya. Membuatku makin gelisah…
“Kalo ngurut kamu bisa gak?”
“Bisa tante, pake minyak apa?”
“Tolong ambilin di kamar, di laci meja rias, bentuknya kaya odol, warna biru putih, ada tulisannya KY”
Aku naik mengambil minyak yang dimaksud. Ada, tulisannya “K-Y Lubricating Jelly”. Aku baru melihatnya, “odol” kok buat mijat.
“Apa sih ini Tante?”
“Ya buat ngurut, gak berminyak tapi licin”

Benar, di dalamnya ada cairan bening sedikit kental, licin tapi tak berminyak. Kembali Aku menjamahi betis mulus Tante. Sampai di paha adalah saat yang mendebarkan. Karena mengurut dari bawah ke atas dengan sendirinya tanganku mendorong pinggiran rok itu ke atas. Beberapa kali urutan sudah cukup untuk menampakkan celana dalam Tante. Gila….. bahkan pantatnyapun putih !

Celana dalam Tante tipis dan agak menerawang, seperti yang kulihat minggu lalu sewaktu Tante ketiduran, cuma yang ini ada hiasan renda2 di pinggirnya. Mataku terus tertuju pada bongkahan pantatnya yang sebagian tertutup celana dalam walaupun tanganku terus menguruti pahanya. Ingin rasanya aku merabai bongkahan kembar yang menjulang itu. Lebih kurang ajar lagi mataku lalu meneliti ke “sudut” di bawah pantatnya. Samar2 kulihat kain celana itu lengket ketat ke isinya, dan he…. seperti ada yang basah di situ.
Tante terkencing ? Bukan. Mungkin keringat, tapi aku tak tahu pasti. Pakaian senam tadi memang basah oleh keringat disana-sini, tapi dia tadi kan sudah mandi.

Suatu saat, mungkin aku terlalu banyak menuangkan cairan itu, paha Tante jadi begitu licin sehingga telapak tanganku “terpeleset” dan jempol kiriku sampai menyentuh di bawah sana. Benar, kurasakan di daerah situ basah. Tante mungkin geli sampai terkencing-kencing, pikirku.
“Udah Din sekarang punggung…”kata Tante. Suaranya agak serak. Entah kenapa.

Punggung….. berarti tiba kesempatanku untuk merasai kulit halusnya. Tak mungkin kan kalau mengurut ke blousenya ? Dengan deg-degan kusingkap blouse Tante sampai setengahnya dan Aku mulai mengurut. Bukan main halusnya kulit wanita ini, lembut banget. Tante kadang2 menggeliat. Berulang-ulang aku di situ.
“Ke atas lagi, Tante?”
“Iya” suaranya masih serak.
Maka kusingkap blousenya ke atas lagi sampai hampir ke bahu. Tante sedikit mengangkat tubuhnya supaya blousenya gampang kusingkap. Disinilah Aku kaget setengah mati.

Seluruh punggung putih itu telah terbuka, benar2 terbuka, tak ada lagi kaitan beha !
Aku yakin tadi Tante mengenakan beha, jelas terasa di tanganku sewaktu memijit. Kapan dia melepasnya ? Jelas sewaktu Aku ke atas mengambil “odol” ini. Otomatis mataku meneliti ke samping tubuhnya. Bulatan tepi buah dada kirinya tampak. Ooohh….. betapa perasaanku tak dapat kugambarkan. Yang jelas berdebar-debar sampai tanganku gemetaran. Indahnya dada itu, terlihat betapa padatnya.

Baru beberapa kali urutan mendadak Tante membuatku kaget lagi, padahal kaget yang tadi belum sepenuhnya hilang. Tante tiba-tiba membalikkan tubuhnya menjadi terlentang. Tentu saja kedua bulatan putih indah itu terpampang di depan mataku. Bulat, putih, mulus, ada urat2 halus kehijauan. Dan inilah baru pertama kali aku melihatnya, puting dadanya. Berwarna merah jambu, dengan lingkaran kecil coklat muda yang mengelilinginya, persis seperti gambar cewe Jepang yang duduk di taman itu. Beberapa saat Aku terpana menikmati pemandangan indah ini.
“Tante ….. “kataku pelan.
Pandanganku beralih ke wajahnya. Matanya sayu, kelihatan berkaca-kaca. Ada senyum tipis menghiasi bibirnya.

Tangan Tante menggapai lengan kiriku, dielus-elusnya. Aku merinding. Lalu ketika tangannya sampai di telapak tanganku, ditariknya tanganku ke dada kanannya. Telapak tanganku kini untuk pertama kalinya menyentuh buah lembut itu. Telapak tanganku dituntunnya memutar mengusapi buah dadanya. Dan kurang ajarnya aku, aku lalu mulai meremasinya. Mata Tante terpejam, tubuhnya menggeliat-geliat. Tanpa disuruh telapak tangan kanankupun ikut meremasi dada buah dada kirinya. Tante mendesah. Penisku keras sekali.
Beberapa saat aku meremasi dadanya, Tante perlahan bangkit duduk. Kami jadi berhadapan. Wajahnya mendekat. Bibirnya menyentuh bibirku. Kami berciuman. Baru pertama kali Aku mencium bibir perempuan. Lalu lidah Tante ikut menyapu-nyapu bibirku dan bahkan menerobos ke dalam mulutku. Ooh…. Aku melumati bibir Tanteku sendiri….

Selintas ada kesadaran di kepalaku. Ini tak benar. Aku melepas ciuman.
“Tante ……”kataku. He… suaraku jadi serak juga.
Tante tak berkata apapun, pandangan matanya makin sayu. Di usap2nya pipiku, dia angkat tubuhnya sehingga buah kembarnya tepat di mukaku, lalu ditempelkannya hidungku ke dadanya. Kuciumi buah dadanya. Dia arahkan putingnya ke mulutku. Aku bingung. Tapi cuma sesaat, karena Tante menyodorkan putingnya ke mulutku. Aku jadi seperti bayi yang sedang menyusu. Putingnya kecil, tapi keras. Kukemot-kemot. Tante merintih, dan …. “Ooh….Din…..”

Lalu tangannya ke selangkanganku. Aku menghindar, entah mengapa aku malu Tante nanti tahu penisku sudah membesar dan keras. Tapi tangannya terus “mengejar”, akhirnya aku menyerah. Tangannya menggenggam penisku.
“Din…..” katanya berbisik.
“Ya Tante …” Aku ikutan berbisik.
“Punyamu gede banget …..”
Gede ?
Apakah benar ?
Aku tak tahu, habis tak pernah lihat yang lain.

“Ayo…. kita pindah…”
Tante bangkit dan menarik tanganku, menuju kamarku. Buah dadanya berguncang indah.
Dia tutup pintu dan langsung dikuncinya. Sungguh Aku tak tahu apa yang akan kita lakukan di kamarku ini. Memang Aku pernah dengar dari teman2 sekolah tentang hubungan seks antara pria dan wanita. Aku waktu itu menjadi bahan tertawaan teman2 ketika menanyakan caranya, untuk apa, dll. Benar2 polos, kata mereka. Lalu Dito, kawan yang paling dekat menerangkan bahwa kelamin laki-laki dimasukkan ke dalam kelamin perempuan. Aku tak komentar apa-apa, hanya merasa aneh, mana cukup penis masuk, apakah tak sakit perempuannya ? Katanya enak. Aku berpikiran seperti itu karena melihat ukuran penisku yang tegang seandainya dimasukkan ke kelamin perempuan yang kecil, kelamin anak perempuan yang pernah aku lihat.

Tapi masa Tante ingin mengajakku berhubungan seks ? Bukankah Aku adalah anak dari kakak suaminya ?Tapi Tante lalu melepas blousenya melalui kepalanya, yang dari tadi menggantung di bahunya. Dia lalu membuka rits celanaku dan seterusnya sampai Aku telanjang bulat. Dirabanya penisku yang mangacung ke atas dan keras. Kemudian Tante melepas roknya, lalu disuruhnya Aku melepas celana dalamnya.

Aku bagai kerbau yang dicocok hidung menuruti kemauannya. Kupelorotkan celananya yang berenda itu. Ada cairan bening yang membasahi celana dalamnya. Lalu menarik tubuhku hingga rebah berdua ke kasurku.
Digenggamnya kelaminku dan kakinya mengangkang lebar. Aku takjub melihat selangkangannya. Lagi-lagi mirip gambar vagina cewe Jepang di majalah yang kutemukan di rak buku. Baru pertama kali Aku melihat kelamin perempuan dewasa. Bulu2nya halus rapi. Kemudian kulihat ke bawah lagi, ah …. begitu “complicated” ujudnya. Ada daging yang berlipat-lipat. Tidak seperti yang pernah kulihat, hanya berbentuk segitiga dengan “garis” vertikal di bawahnya.

Dituntunnya kelaminku ke arah kelaminnya. Digesek-gesekkan kepala kelaminku ke situ. Terasa sesuatu yang hangat dan membasah, dan tentu saja rasa enak di kepala penisku. Beberapa kali Tante menggesek-gesekan disitu, lalu ketika sampai di bagian bawah dia melepas genggamannya, tangannya ke belakang pantatku dan dia menekan.

PRIVATE TEACHER Part II

April 29, 2008

Senin hari pertama di sekolah baru, belum banyak guru yang mengajar membuat pikiranku sering mengembara. Yang paling sering terbayang adalah paha Tante yang kulihat Jumat pagi kemarin. Mungkin sekarang Tante sedang duduk di sofa membaca majalah, membuatku pengin cepat2 pulang.

Sampai di rumah tak kujumpai Tante di ruang tengah, hanya ada Mbak Mar dan Mang Pendi yg sedang ngobrol di belakang. Terus terang Aku kecewa. Aku duduk membaca koran, tapi pikiranku melayang-layang. Ooh…Tante, turunlah, Aku ingin menikmati pahamu lagi. Benar, belum lama aku duduk Tante memang turun, tapi bukan dengan daster kemarin yang agak pendek, justru sekarang dasternya malah di bawah lutut, bukan pas di lutut seperti biasanya. Aku kecewa. Mendadak timbul kecemasanku. Jangan2 Tante tahu Aku sering menatapi pahanya, makanya dia sekarang pakai daster panjang. Ah…gawat.

Tapi rasa cemasku segera hilang, dari obrolan tanya2 tentang sekolah hari pertama dia tetap ramah seperti biasa. Dia menghidupkan TV dan lalu duduk di sofa samping dekat tangga (bukan di depanku seperti kemarin) karena nonton TV. Lalu dia mencari-cari sesuatu di rak majalah, tak ketemu.
“Din, tolong Tante ambilin majalah di kamar”perintahnya. Aku segera naik dan masuk kamar Oom dan Tante. Sudah biasa aku memasuki kamar ini untuk beres2. Kamar itu sudah rapi. Majalah mode yang tergeletak di ranjang aku ambil dan aku keluar lagi. Di perjalanan menuruni tangga, aku tercekat.

Tante masih duduk di tempat yang tadi. Dari atas begini yang pertama kali terlihat tentu saja rambutnya, tapi juga dadanya. Tak hanya belahan dadanya, tapi juga kedua bulatan itu tampak jelas, bahkan sampai pinggiran bra dia. Aku sempet berhenti melangkah. Buah dada Tante begitu indahnya, putih, mulus dan membulat.

Ah, selama ini Aku tak pernah memperhatikannya. Tadipun tidak. Perhatianku hanya tertuju melulu ke kaki dan pahanya. Kenapa tidak dari dulu …. Karena Aku memang belum mengerti. Di desaku dulu, ibu-ibu yang mencuci pakaian memang memakai kain sebatas dada, tapi aku tak pernah tertarik memperhatikannya. Mungkin karena memang aku belum mengerti tentang rangsangan tubuh perempuan, atau dada ibu2 itu tak seindah dada Tante.

Kuangsurkan majalah ke Tante, Aku tak berani menatapnya. Aku duduk ke tempat semula dan ambil koran.
Aku mencuri-curi pandang. Daster Tante memang model panjang, tapi di bagian dada rendah, hanya dihubungkan dua utas tali untuk bergantung ke bahunya. Saking rendahnya mungkin separuh bagian dadanya tak tertutup. . Ah, kenapa tadi aku tak melihatnya. Lagi-lagi penisku menggeliat.

Aku coba mengingat pakaian Tante yang kemarin. Di bagian dada rasanya tak terbuka seperti sekarang. Atau Aku juga tak memperhatikan karena “sibuk” dengan pahanya ? Aku makin gelisah, penghayatanku terhadap Tante bertambah, tak hanya kaki dan paha, sekarang dada. Apalagi dada itu bergerak naik-turun seirama tarikan nafas pemiliknya. Aku terrangsang !

Siksaan bertambah ketika Tante mengambil pola rancangan baju dari halaman tengah majalah tadi kemudian membentangnya di atas karpet. Tentu saja dia banyak membungkuk-bungkuk, kedua bola daging kembar itu makin tumpah dihadapanku. Aku terrangsang berat….!

***

Seperti minggu kemarin, setelah mendapatkan rangsangan berat aku jadi susah tidur. Sehingga bangun pagi aku tidak merasakan kesegaran seperti biasanya dan terlambat pula. Aku masuk ke kamar mandi masih dalam keadaan ngantuk dan penis yang masih tegang pagi. Sewaktu Aku menyabuni tubuhku, sampai diselangkangan aku merasakan nikmat ketika merabai batangku yang masih setengah tegang. Kuulang menyabuninya, tambah enak dan tambah tegang. Kuelus-elus dan sekali2 kugenggam, makin enak. Tak hanya menggenggam, aku mulai menggerak-gerakkan telapak tanganku yang menggenggam penisku sambil membayangkan paha dan dada Tante.

Makin sering aku menggerakkan tanganku makin enak kurasakan, sampai akhirnya aku rasakan seperti me-layang2 tak menginjak lantai dan …….. aku kencing. Yang keluar dari lubang kelaminku bukannya air seni, tapi cairan putih yang kental. Setelah itu memang kurasakan agak segar dan perasaan lega, tapi juga ada rasa bersalah meliputiku. Melakukan perbuatan yang tak senonoh, apalagi sambil membayangkan Tanteku yang baik hati, isteri Oomku yang telah membiayai hidup dan sekolahku. Di kemudian hari Aku baru tahu bahwa aku melakukan masturbasi. Itu masturbasiku yang pertama.

Walaupun baru dua minggu aku tinggal di rumah Oomku tapi telah terjadi perubahan –yang bagiku– cukup besar pada diriku. Perubahan juga terjadi pada “penghayatan”ku terhadap tante. Pada awalnya aku menganggap Tanteku yang cantik ini sebagai Tante isteri Oomku. Aku menaruh hormat pada mereka berdua. Bayangkan, suami-isteri yang berpendidikan tinggi, terpandang di masyarakat, berkecukupan, bersedia menerimaku yang anak desa, miskin, sebagai keponakannya sendiri.

Aku memang masih menaruh hormat pada mereka berdua yang mau menampungku dan membiayai sekolahku. Tapi sekarang, terhadap Tante aku bukan hanya menganggap sebagai tante saja, aku mulai memandangnya sebagai perempuan yang cantik, menarik, dan menggairahkan. Sungguh perbuatan yang tak pantas dan tak tahu diri.

Mereka berdua juga merasa senang melihat aku betah, rajin belajar, dan juga rajin membantu atas kemauanku sendiri. Bagiku, pekerjaan membereskan rumah membantu mbak Mar dan mang Pendi belum apa-apa bila dibandingkan dengan kerjaku dulu di desa mengurus kebon yang sungguh berat. Makan waktu dan tenaga, mulai dari pulang sekolah hingga menjelang maghrib. Jadi Aku senang-senang saja ber-beres2.
Hanya, Aku terus-menerus merasa bersalah jika timbul pikiran-pikiran nakal terhadap tante. Tapi apa daya, aku tak mampu menghentikannya, gairahku terus meluap-luap.

Tapi aku harus berusaha menghentikannya, terus mencoba walaupun sulit. Makanya, sehabis makan siang itu aku langsung masuk kamar, tidak duduk di ruang tengah seperti biasanya. Aku khawatir kalau berlama-lama dihadapan tante jadi timbul pikiran nakalku untuk mengintip paha dan dadanya. Aku coba-coba membuka buku2 pelajaran yang diberikan tadi pagi, seperti kebiasaanku sejak SMP. Tapi tak satupun yang masuk ke kepala.

Aku coba mengalihkan kegiatan, lebih baik membaca buku saja. Kujelajahi rak buku milik Oom yang ada di kamarku, barangkali ada buku yang cocok kubaca. Buku tentang krisis moneter karya seorang ekonom terkenal menarik perhatianku. Kemarin guru Ekonomi juga membahas sedikit tentang krisis yang melanda republik ini. Aku tarik buku itu dari deretan padat buku2. Aku kurang hati2 sehingga beberapa buku ikut jatuh berserakan. Tak hanya buku, ikut jatuh pula lembaran2 berwarna. Ini yang membuatku kaget.

Terserak di lantai gambar2 berwarna dari wanita2 bule yang telanjang dada !
Dadaku berdebar kencang. Baru kali inilah Aku melihat gambar wanita telanjang dada, baru kali inilah aku melihat gambar buah dada. Lembar2 potongan dari majalah memuat foto2 high quality dan berukuran besar, menampilkan detilnya dengan jelas. Buah dada itu bulat, putih, dengan puting menonjol dan berwarna merah muda. Kontan aku tegang dan gelisah. Seharusnya aku langsung memunguti lembaran2 itu mengembalikan ke tempat semula. Tapi tidak, aku menelitinya satu-persatu. Macam-macam bentuk buah dada itu, ternyata.
Ada yang bulat besar, ada yang bulat sedang, ada yang menggantung, ada yang kencang ke depan. Lingkaran yang mengelilingi pentilnyapun macam2, ada yang lebar gelap atau warna muda, ada yang cuman ngepas disekeliling puting. Punya Tante mirip yang mana ya… Hah ! kenapa punya Tante. Entah kenapa tiba-tiba Aku hendak membandingkan milik Tante. Dasar tak tahu diuntung….

Tak puas2nya aku mengamati gambar2 itu. Tanpa sadar tanganku sudah memegangi batangku yang menegang, dan mulai mengelus-elusnya. Tiba-tiba terdengar samar suara wanita memanggil namaku. Kupertajam indra pendegaranku. Benar, suara Tante. Celaka!. Dengan gugup kebenahi lembaran itu lalu dengan cepat kuselipkan di antara buku2 di rak. “Ya Tante…” Aku teriak. Aku keluar kamar menuju ruang tengah. Tante tak ada di situ. Wah celanaku masih ada tonjolan.
“Tante di atas, Din…”
“Ya Tante…”
Aku buru2 menaiki tangga. Diujung tangga kulihat Tante berdiri mengenakan semacam kimono polos
warna biru langit. Dari belahan kimono itu sekilas nampak sebagian paha Tante. Ah…kamu Din, masih sempat2nya mengintip. Habis, aku di bawahnya…
“Kamu lagi belajar?”
“Engga Tante…”
“Bisa tolong Tante?”
“Ya bisa dong….”sahutku spontan tanpa nanya tolong apa.
Sampai di atas, entah setan dari mana yang membujukku, dengan beraninya Aku menatapi dada Tante. Uuihhh…… dua bulatan menonjol besar tertutup kimono dari bahan mirip handuk. Celakanya, saat itu juga Tante menatap mataku. Bukan main malunya aku, telah tertangkap basah melihat dadanya. Aku yakin Tante tahu bahwa aku melihat bagian dadanya. Aku jadi gugup.
“Tolong sikat kamar mandi Tante ya…. tadi Tante hampir jatuh kepeleset”Katanya. Pandangannya masih wajar, tak menunjukkan kemarahan atau rasa tak senang mendapati keponakannya berlaku kurang ajar. Aku agak lega, walaupun masih salah tingkah.

Dengan sikat yang bertongkat aku menggosoki lantai kamar mandi. Aku sudah biasa melakukan ini. Tante juga ikut masuk menunjukkan bagian mana lantai kamar mandi yang luas ini yang harus di sikat. Aku mulai kerja dengan sungguh2, sementara Tante membereskan botol2 entah apa saja di meja rias kamar mandi.

Menebarkan obat pembersih keramik ke lantai, kugosok, lalu kubilas. Sementara aku membilas,
Tante kadang membungkuk membereskan benda-benda di bawah. Dan itulah yang membuat jantungku berhenti berdenyut. Ketika dia membungkuk itu belahan tengah kimononya “jatuh” sehingga terbuka. Dari tempatku berdiri sekarang pandangan ke arah Tante adalah menyamping, suatu sudut pandang yang “ideal” untuk menerobos belahan kimono yang terbuka ketika dia membungkuk. Meskipun hanya sekejap2 tapi jelas Tante tak memakai bra. Tampak olehku sebelah buah dada Tante yang selain putih mulus juga bulat dan besar. Jelas saja Aku tegang. Kalau kemarin aku melihatnya dari atas sekarang dari samping, makin jelas bulatnya. Mirip dada cewe yang di potongan majalah tadi. Sayang, beberapa kali Tante membungkuk Aku tak berhasil mengintip putingnya. Gila lu, ngapain mau lihat puting Tantemu? Mau kubandingkan dengan cewe di majalah tadi…

Ini bilasan terakhir, pekerjaanku hampir selesai. Aku berhenti mengintipi dada Tante, berusaha menenangkan diri, tapi tonjolan di celanaku belum juga surut.
“Kalau udah dibilas udah aja Din…”kata Tante mengejutkanku.
“Baik Tante…”
Cilaka, Tante tadi sempat sekejap melihat kebawah….. ke tonjolan itu….. Ah…. malunya aku.
Aku turun dan langsung masuk kamar, ngaca. Benar. Aku yakin tadi Tante telah melihat perubahan pada bagian bawah tubuhku. Sungguh Aku malu sekali….

Aku ambil lagi gambar2 yang tadi kuselipkan dengan tergesa-gesa ke rak. Kucari gambar cewe bule telanjang dada yang sedang duduk di sofa, cewe inilah yang ukuran dan bulatan dadanya mirip punya Tante, menurutku. Apakah puting dada Tante juga merah jambu seperti bule ini? Celanaku kembali sesak, kubuka rits-nya dan kukeluarkan penisku, kuraba dan kuelus. Sambil melihat gambar buah dada indah ini Aku membayangkan buah dada Tante yang tampak sekilas di kamar mandi tadi.

Pengalaman nikmat kemarin di kamar mandi, akupun mengambil sabun. Kembali Aku melakukan masturbasi seperti kemarin. Kalau kemarin Aku “menemukan” cara enak ini tak sengaja ketika sedang mandi, kali ini aku melakukannya dengan melihat gambar dada dan sambil membayangkan Tante. Juga seperti kemarin, setelahnya kurasakan rasa bersalah telah melakukan ini sambil membayangkan buah dada Tante…

Selain rasa bersalah itu, ada hal lain yang mengganggu pikiranku. Beberapa hari lalu ketika Aku menemukan gambar2 paha dari majalah mode kemudian hari berikutnya diikuti oleh “suguhan” paha Tante dihadapanku. Kemudian ketika Aku mengintipi buah dada Tante, diikuti oleh penemuanku pada lembar-lembar dari majalah luar yang menyuguhkan buah dada juga.

Apakah ini suatu kesengajaan ?
Kalau ya, siapa yang menyimpan gambar2 itu di rak buku ?
Atau hanya suatu kebetulan belaka ?

Memang aku belum meneliti keseluruhan isi rak buku itu. Bisa saja kedua paket lembaran2 majalah tadi memang sudah ada di situ. Aku mengambil kesimpulan memang hanya kebetulan saja, sebab Aku tak menemukan siapa yang sengaja menaruh gambar2 itu dan alasan yang masuk akal tentang maksudnya.

***
Hari2 pada minggu berikutnya Tante malah lebih sering tampil dengan daster yang tertutup. Bagian atas yang berlengan dan tidak rendah serta bagian bawah yang dibawah lutut. Kecuali sekali ketika aku pulang sekolah mendapati Tante sedang memotong pola2 baju di atas hamparan karpet di ruang tengah. Mengenakan daster panjang tapi bagian dada yang rendah. Dengan posisi tubuh yang membungkuk mengunting pola, jelas saja belahan buah dadanya tampak jelas dihadapanku. Aku sempat berhenti sejenak mengamati dadanya sebelum akhirnya aku sadar dan cepat2 masuk kamar.

Tapi di dalam kamar aku gelisah. Bayangan kedua bulatan di dada Tante tak mau pergi dari kepalaku. Ini yang mendorongku untuk keluar kamar sambil membawa buku dan duduk di ruang tengah. Kurang ajarnya Aku, kursi yang kududuki tepat di depan Tante yang sedang membungkuk-bungkuk menekuni pola-pola baju.
Setelah berbasa-basi sebentar Aku merasa tak enak sendiri. Sambil menggunting-gunting Tante sesekali nanya2. Tak enak begini terus, aku bangkit.
“Hidupin TV ya Tante”
“Silakan aja, pake bilang segala”katanya.
“Siapa tahu mengganggu Tante”
“Engga kok”
Kuambil remote control yang terletak di meja pinggir, dan memang aku keponakan yang kurang ajar, aku kembali lagi duduk ke kursi yang tadi. Setidaknya Aku punya alasan, karena di kursi itulah yang paling pas kalau nonton TV (disamping mengintipi dada….).

Jelas saja panisku menegang.
Tak boleh aku begini terus, ini harus dihentikan sebelum Tante, apalagi Oom, tahu kekurangajaran keponakannya. Maka kualihkan perhatianku ke buku. Aku membaca dan mencoba mati2an berkonsentrasi kepada isi buku. Setelah kurasakan di celanaku mulai normal, Aku pamitan ke Tante.
“Mau kemana?”
“Ada PR Tante…”
Aku cepat2 masuk kamar, khawatir punyaku bangun lagi melihat belahan putih itu.

Justru di kamar aku kembali terbayang-bayang oleh apa yang tadi kulihat. Kamu harus kerjakan PR. Ah, itu bisa nanti malam saja. Gambar2 dada lebih menarik. Aku tak bisa menahan diri untuk tak mengambil gambar2 dada bule, juga tak mampu menghentikan langkah kakiku ke kamar mandi. Dan akhirnya aku “kencing enak” lagi. Juga diikuti rasa sesal sesudahnya…

Setelah melakukan onani yang ketiga kalinya kemarin, aku benar2 bertekad untuk menghentikannya. Pulang sekolah setelah makan Aku langsung masuk kamar mengerjakan PR. Selesai, disambung baca buku sampai menjelang sore. Aku tak ke ruang tengah, tapi pamitan Tante untuk ke luar rumah. Untunglah Aku sudah banyak kenalan remaja2 tetangga. Mereka baik-baik, mungkin karena Oom dan Tante terkenal sebagai sepasang suami-isteri yang baik hati dan mau membantu.

Di dekat rumah, berjarak 3-4 rumah ada tanah kosong yang dibuat lapangan voli. Biaya untuk membangun lapangan voli seluruhnya dibayar oom. Remaja di situ mengajakku untuk gabung latihan voli. Walaupun Aku bilang tak bisa dan belum pernah bermain voli, mereka memaksaku. Tubuhku yang tinggi dan lumayan kekar modal yang bagus untuk menjadi pemain voli. Itu kata merteka. Sejak itulah Aku punya kegiatan rutin latihan voli. Dan kata mereka pula, aku cepat belajar, sebagai tukang smes yang andal.

Kegiatan ini membantuku untuk tidak melulu berpikiran tentang paha dan dada Tante. Aku begitu sibuk tak sempat lagi duduk2 melamun jorok. Bahkan sudah seminggu ini Aku tak melakukan onani. Ini membuatku segar. Memang kadang2 aku tergoda. Selain ada tim putra, telah dibentuk juga tim putri. Kami bergantian memakai lapangan. Sambil menunggu tentu saja aku menonton tim putri berlatih. Salah satu pemain, Ratih, SMA kelas tiga, dengan kaosnya yang ketat menonjolkan buah kembarnya. Apalagi kalau dia meloncat memukul bola, kedua “bola”nya ikut berguncang.
“Kak Ratih bagus smesnya”kataku memuji.
“Ah kamu …..”katanya sambil senyum, manis banget.
Tapi aku tak boleh berlarut, aku harus ingat pada niatku untuk menghapus pikiran2 buruk yang selama ini menggangguku. Niat yang kuat memang mampu mengalahkan pikiran ngeres. Hanya sesekali saja aku menikmati “bola2″ Kak Ratih.

Sejauh ini niatku untuk “kembali ke jalan yang benar” telah berhasil. Sudah jarang menatapi tubuh Tante di ruang tengah, tak pernah lagi masturbasi, dan tak ada lagi rasa bersalah. Sampai pada suatu siang ….

Pulang sekolah seperti biasa Aku masuk dari pintu depan kemudian ke ruang tengah. Jantungku berdegup.
Di atas karpet Tante tergolek terlentang. Posisi kakinya ada di dekat tempatku masuk dan posisi kepalanya ke arah jauh. Wajahnya tertutup majalah. Yang membuatku kaget, hampir seluruh paha Tante terbuka. Apalagi sebelah kakinya bertekuk sampai paha bagian belakangnya nampak. Daster yang dia kenakan adalah yang model di atas lutut. Aku hafal warna dan motif bunga2nya.

Dada yang menjulang itu turun naik seirama nafasnya. Kudengar dengkuran amat halus. Tante ketiduran ketika membaca majalah, pikirku. Ah…. paha itu begitu menggoda. Aku menatapinya. Paha yang putih dan mulus. Aku lihat sekeliling, jangan2 ada orang yang melihatku menatapi paha Tante. Mang Kanda tadi di depan sedang mencabuti rumput2 liar. Mbak Mar seperti biasa di belakang. Terjadi perang dalam diriku. Antara keinginan kuat menikmati paha dengan kekhawatiran tiba-tiba Mbak Mar ke ruang tengah

PRIVATE TEACHER part I

April 29, 2008

Tiba-tiba Tante menarik tanganku, aku langsung berdiri mengikuti langkahnya memasuki kamarku. Masih terkaget-kaget Aku ketika menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.
“Jangan ditutup, buka dikit aja…”kata Tante.
Tante langsung ke balik pintu dan bersender ke dinding. Tanpa perintah Aku langsung mendekatinya, dan hendak mencium bibirnya.
“Jangan cium….”
Aku baru ingat, Tante sudah berdandan. Kalau kucium lipstik di bibirnya akan habis dan akan jadi pertanyaan Oom.
Aku rabai dan remas2 dadanya. Tangan Tante lalu membuka rits celanaku dan mengeluarkan isinya. Dengan beberapa kali elusan saja penisku sudah membesar tegang dan keras siap tempur.

Lalu Tante melepaskan sendiri celana dalamnya, mengangkat roknya dan juga sebelah kakinya.
“Ayo….masukin…. gak banyak waktu….”katanya
Akupun masuk….
Aku memompa….
Bibir Tante terkatub rapat, bahkan telapak tangannya ikut menutup mulutnya, khawatir membuat suara2 aneh.
Enak juga melakukan hubungan seks sambil berdiri begini…
Aku cuma membuka rits dan menurunkan celana dalam, sedangkan Tante hanya celana dalamnya saja yang dilepas, pakaian lainnya tetap ditempatnya. Bagiku ini suatu sensasi baru….

Dengan pintu yang sedikit terbuka maka bila ada orang yang turun tangga akan kedengaran. Tante sempat menghentikan pompaanku ketika seolah-olah terdengar suara langkah kaki di tangga. Ternyata bukan. Pompa lagi…

Entah karena melakukan sambil takut2 begini atau karena lama Aku tak melakukan hubungan seks, maka kurasakan Aku hampir “nyampai”, tidak selama seperti biasanya. Cepat-cepat Aku cabut dan kutembakkan ke dinding. Tante cepat-cepat menghindar khawatir pakaiannya terciprat maniku.

Tubuhku tersandar ke dinding, lemas. Dari lubang penisku masih menetes maniku. Sementara Tante mencari-cari tissu dan sibuk mengelap selangkangannya. Dipakainya lagi celana dalamnya, lalu mengintip dulu sebelum dia keluar pintu kamarku. Pintu langsung kututup dan kurebahkan tubuhku ke kasur, lemas dan puas … !

***

Dua bulan sebelumnya …

Kuketuk pintu, beberapa menit Aku menunggu belum ada yang membukakan. Rupanya pintu ini ada belnya, kupencet. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan mucullah seorang wanita amat cantik, putih bersih menatapku, tersirat sebersit kecurigaan. Roman wajahnya mengingatkanku pada foto tante Lina, tapi wanita ini lebih muda dari yang kubayangkan.
“Saya Didin, bu”kataku
“Didin… anaknya Kang Sastra?”
“Benar, Bu”
Mendadak roman muka wanita ini berubah menjadi amat ramah.
“Ayo masuk…. tak kusangka kamu udah gede gini….”

Jelas saja, dia melihatku terakhir adalah waktu aku umur 10 tahun, enam tahun lalu sewaktu Oom dan Tanteku ini baru saja menikah. Menurut perasaanku tanteku ini tak berubah dibanding 6 tahun lalu, tetap cantik dan muda. Ya, hanya cantik dan muda itu saja kesanku pada tanteku ini, sebab sebagai pemuda desa, aku belum tahu apapun tentang wanita. Kalau pertemuan ini terjadi sekarang tentu kesan itu akan bertambah dengan tubuh langsing tinggi, pinggang ramping, perut amat rata, kulit putih bersih dan mulus, pinggul tak begitu lebar tapi kedua bongkahan pantat yang membulat dan “membonceng” ke belakang, dan …. kedua bulatan di dada yang tegak kencang menantang. Rok span pendek yang ngepas dipadu dengan blouse yang ngepas juga menambah kemudaan tanteku ini. Tapi waktu itu kesanku hanya tanteku ini cantik dan ramah. Aku sama sekali tak memperhatikan keunggulan lainnya, maklum waktu itu masih lugu dan polos.

“Gimana kabar Kang Sastra dan Teh Is?” Itu nama ayah dan ibuku.
“Baik2 saja, Bu” jawabku sopan.
“Aku ini tantemu, panggil aja Tante ya…”
“Baik bu, eh…Tante”
Lalu seorang perempuan muda datang mengantar minuman jeruk yang dingin dan enak, dikenalkannya sebagai Marni, pembantu tante. Perempuan ini mungkin hanya satu atau dua tahun lebih tua dariku. Asalnya dari jawa Tengah, maka aku memanggilnya dengan Mbak Mar.

“Ayo Tante tunjukin kamarmu, bawa tasmu sekalian”
Mbak Mar yang mau mengangkat ranselku aku cegah.
“Biar saya bawa sendiri, mbak”
Kusambar ranselku, satu2nya bawaanku (dan “harta”ku) dari desa.
Dari ruang tamu Aku mengikuti tante ke ruang tengah yang luas, lalu ada kamar yang pintunya tertutup, dan ke arah belakang sedikit lagi ada kamar yang pintunya terbuka. Tante masuk ke kamar ini, aku mengikuinya.
“Ini kamarmu… mudah2an kamu betah”
Kamarku? Wow…. mewah sekali. Tentu saja bandinganku adalah kamarku di desa yang sederhana, juga kamar kawan2ku SMP di desa.
“Bagus sekali Tante… terima kasih”

Ada dipan yang berkasur, terlalu mewah bagiku yang biasanya tidur di atas tikar berdua dengan adikku. Ada lemari pakaian, dan ada rak buku lumayan lebar yang nempel di dinding. Rak yang penuh dengan buku2, berkas2, dan entah apa lagi. Di pojok ada pintu lagi, aku buka ternyata kamar mandi. Gila, Oom dan Tante memberiku kamar yang ada kamar mandi di dalamnya. Sungguh amat mewah bagiku.

Kuletakkan ransel di bawah lalu Aku duduk di tempat tidur.
“Buku2 di rak ini nanti kamu rapikan, jadi nanti ada ruang buat naruh buku2 kamu”kata Tante. Lalu dia duduk di kursi dekat meja belajar persis di depanku, kakinya disilangkan dan sekejap pahanya terbuka, putih sekali… Waktu itu tak ada reaksi apapun pada diriku.
“Sekarang kamu istirahat dulu…. capek kan naik bis semaleman…”
Tante beranjak menuju ke pintu keluar, cepat-cepat Aku ke pintu untuk membukakannya. Pintu belum terbuka seluruhnya Tante sudah melaluinya sehingga pantatnya bergesekkan dengan pahaku, padat sekali….
Aku ingat benar waktu itu kedua kejadian itu tak berpengaruh sama sekali terhadapku. Kalau saja terjadi sekarang, bisa-bisa ….

Kubongkar ranselku, kumasukkan pakaianku yang cuma beberapa lembar ke lemari pakaian, beres. Tak ada lagi yang bisa kukerjakan, orang semuanya sudah rapi. Kalaupun ingin beres2 mungkin rak buku itu yang isinya agak tak beraturan. Kelihatannya itu buku2 milik Oom.

***

Hari Minggu hari pertama Aku di tempat baru, masih serasa canggung. Pendaftaran ke SMUN XX baru dibuka Senin besok. Kerja apa Aku ? Kalau di desa sih jelas ke kebun bantu2 ayah sampai menjelang magrib, dan sangat menguras enerji. Kalau disini, masa Aku cuman nganggur2 aja ?

Kubawa sepasang pakaian kotorku ke belakang, maksudku mau mencuci saja, kalau ada pakaian kotor yang lain biar aku cuci sekalian. Aku ke belakang mencari-cari tempat cucian gak ketemu. Bingung. Bahkan pakaian kotorpun tak ada. Tante datang.
“Nyari apa Din…”
“Eh….Tante, saya mau nyuci baju”
“Udah, kasih aja ke Si Mar. Mar…!”
“Ya Bu…”
Mbak Mar muncul dari belakang dengan tergopoh-gopoh.
“Tolong pakaian Mas Didin sekalian dicuci”
“Saya cuci sendiri aja Tante”
“Gak usahlah…”
“Sini Mas…”kata mBak Mar. Dia mengambil pakaianku dari tanganku, lalu dimasukkan ke suatu kotak di sudut. Ternyata itu mesin cuci. Pantesan gak ada tempat cuci yang berbentuk papan bergerigi seperti di rumahku di desa. Dasar anak desa…
Aku jadi ter-bengong2, mau kerja apa aku ? Mau bersih2 di belakangpun dilarang sama Tante.
“Udah ke depan sana, ada Oom tuh…”
Aku ke ruang tengah, ada Oom yang sedang duduk di sofa baca koran.
“Selamat pagi Oom”
“Eh, kamu Din, sini …. duduk sini…”

Oom banyak tanya tentang kehidupanku di desa. Aku ceritakan semuanya. Tante lalu bergabung duduk disamping Oom. Tante merebahkan tubuhnya ke badan Oom dan Oom melingkarkan lengannya memeluk Tante. Mereka berdua benar2 mesra… dan suami-isteri ini begitu baiknya. Aku jadi merasa amat nyaman tinggal di keluarga ini.

Aku ke depan rumah menemui laki-laki setengah baya yang sedang kerja di taman, ingin berkenalan sekalian bantu2.
“Selamat pagi Pak”
“Eh…Aden, baru datang dari Jawa ya?”
“Iya Pak, bapak namanya siapa?
“Panggil aja saya Mang, nama saya Pendi”
“Panggil saja saya Didin…”
Aku bantu membereskan tanaman meskipun Mang Pendi melarangku.
“Saya udah biasa kerja di kebon, Mang”kataku.
Baru sekitar sejam Aku membantu rupanya Si Mang merasa gak enak. Dia terus memaksaku untuk berhenti membantunya. Aku mengalah, lalu masuk kembali ke rumah.
Ngapain lagi ya ?
Oh iya, beres2 isi rak buku. Aku mulai dari seretan rak yang paling atas. Kuturunkan seluruh isinya lalu secara bertahap kususun kembali sampai rapi.

Ketika aku mulai merapikan deretan kedua dari atas, ada lembar2 gambar yang menarik perhatianku. Kuambil dan …. ada 3 lembar ketas cetakan mengkilap berwarna, sobekan dari majalah, kayanya. dari tulisannya aku menduga sobekan dari majalah wanita, tentang mode. Lembar wanita menampilkan wanita cantik berpakaian bagus sedang berdiri. Lembar kedua masih wanita tadi dengan baju model lain. Dan lembar ketiga yang membuatku berdebar-debar. Wanita tadi duduk dengan kemeja dan rok yang pendek, yang mempertontonkan sepasang kaki yang panjang, putih, dan mulus. Yang membuatku berdebar adalah separuh paha mulus wanita itu terbuka. Aku belum pernah melihat gambar paha begini, apalagi paha sesungguhnya. Maklum di desaku tak ada majalah begini, yang hanya ada koran lokal. Mungkin Aku pernah melihat paha, paha milik ibu-ibu sehabis mencuci pakaian di sungai yang melewati kebunku. Tapi waktu itu tak ada pengaruh apa-apa, biasa saja. Entah karena paha itu milik perempuan yang tidak muda lagi, atau karena memang belum masanya.

Gambar paha wanita itu seringkali terbayang-bayang di kepalaku. Ada rasa berdesir jika Aku kembali melihat lembar potongan majalah itu. Dan tanpa bisa kucegah, Aku jadi berbeda bila melihat tanteku. Aku jadi membayangkan keindahan paha tanteku walaupun tak terlihat, karena rok tante sampai di lututnya. Aku membayangkan di balik rok itu terdapat sepasang paha mulus seperti gambar di majalah, atau mungkin lebih indah. Oh iya, hari pertama Aku tiba sempat melihat paha Tante meskipun hanya sekejap. Kesanku, paha itu begitu putihnya…

Aku mendapatkan penghayatan yang berbeda bila melihat tante. Terus terang ini membuatku gelisah dan merasa bersalah. Tanteku yang begitu baiknya menghidupiku, membayar segala biaya sekolahku, sementara Aku berani “kurang ajar” begini meski hanya dalam bayangan.

Sekolah belum dimulai. Selesai aku menyelesaikan pekerjanku sekitar jam 11 aku duduk di ruang tengah nonton TV. “Pekerjaan” yang kumaksud adalah beres2 taman di halaman depan membantu Mang Pendi, tukang kebun, atau beres2 di belakang membantu mBak Mar.
Ini atas inisiatifku sendiri. Tante sebenarnya tak mengizinkan, juga mang Pendi dan mbak Mar ngerasa tak enak. Tapi aku memaksa membantu pekerjaan mereka karena tak enak aku menumpang di rumah Oom-ku ini tanpa melakukan apa-apa.

Setelah seminggu di rumah ini Aku jadi hafal kegiatan Tante di rumah. Hari Selasa dan Kamis dia keluar rumah pagi untuk senam di sanggar senam, pakai mobil BMWnya dan setir sendiri. Hari lainnya kadang dia keluar juga bersama teman atau tetangga. Kalau tak ada kegiatan dia bangun agak siang.

Siang itu tante sepulang dari senam, menyapaku yang sedang nonton TV kemudian langsung naik tangga ke atas ke kamar utama. Setengah jam kemudian tante turun lagi, kelihatan segar, sehabis mandi. Aku pernah ikut bantu bersih2 kamar Oom-Tante yang luas dan mewah di lantai atas. Di dalam kamar itu juga ada kamar mandi yang luas. Aku baru lihat ada kamar mandi di dalam kamar tidur, jelas di desaku tak ada yang seperti ini.

Tante mengenakan daster santai turun tangga, jantungku berdegup. Sekilas dan sekelebatan dan sesekali paha tante terkuak. Aku lagsung menunduk, tak berani melihat ke tangga. Tapi ketika Tante melewatiku dan lalu membelakangiku, aku mencuri-curi pandang lagi. Sepasang betis putih itu begitu panjang indah dan mulus. Nampak juga bagian belakang dengkul dan sedikit di atasnya. Daster Tante hanya sampai sedikit di atas lutut, tak seperti biasanya yang selutut. Batangku mulai menggeliat.

Pembaca, mengalami batang tegang keras begini terus terang amat jarang, hanya di pagi hari saja. Di desaku dulu alat vitalku hanya tegang kalau di pagi hari habis bangun tidur saja. Sebab hari-hariku selain sekolah juga disibukkan oleh pekerjaan di kebun membantu ayahku. Aku jarang berada sendirian untuk melamun yang menyebabkan tegang seperti biasa dilakukan oleh anak laki seusiaku. Di malam haripun Aku tak ada kesempatan, karena Aku harus berbagi kamar dengan adikku. Sekarang aku punya banyak waktu luang dan sering sendirian.

Tante duduk di sofa tempat dia biasa duduk membaca, letaknya di depanku. Di antara kami hanya ada hamparan karpet tebal, sehingga sepasang kaki dan sebagian paha indah itu terhidang di hadapanku, dan dengan mudah bisa kunikmati sebenarnya, kalau Aku berani memandangnya. Tante nanya2 tentang keadaan sekolah serta teman2 baruku. Selama bicara dengan Tante Aku hanya berani menatap matanya seperti layaknya kalau aku berbicara dengan siapapun. Tak sekalipun pandanganku turun ke bawah, walaupun sebenarnya ingin, takut …

Tapi ada juga kesempatan sekilas2 menikmati pahanya, ketika Tante sedang tak bicara. Aku diuntungkan dengan letak TV. Dibelakang Tante ada lemari/rak yang nempel di dinding. TV ada di rak dinding itu, dari arahku letak TV ada di sebelah kiri Tante. Kalau tak sedang bicara, pandanganku ke TV sambil sekali2 “ngecheck” ke mata Tante. Kalau dia sedang menunduk, mataku bergeser ke bawah menikmati sepasang kaki jenjang dan sebagian paha putih mulusnya, dan kembali ke TV. Toh dari sisiku, menatap TV dan Tante adalah hampir searah pandang. Tak urung peniskupun tegang keras dan memanjang, aku jadi tak berani bergerak dari tempat dudukku. Kalau Aku bangkit berdiri, pasti celanaku menonjol kedepan.

Tante kemudian bangkit dari duduknya. Aku kecewa. Tapi …tidak. Dia hanya mengambil majalah dari meja samping, terus duduk lagi, membaca majalah mode. Duduk santai, kepalanya bersandar pada sandaran sofa, mukanya tertutup oleh majalah yang membuatku makin leluasa “menghayati” kaki dan pahanya. Apalagi saat tertentu dia bergantian menyilangkan kakinya. Saat posisi kaki kiri dia tumpangkan ke kaki kanannya adalah saat yang paling ideal bagiku. Ujung dasternya terangkat ke atas sehingga hampir seluruh paha kirinya bisa kunikmati. Aku makin gelisah …

Malamnya aku susah tidur, bayangan paha Tante tak mau hilang dari kepalaku. Kembali penisku tegang. Kuambil buku novel, kubaca. Memang pikiran beralih, tapi sebentar2 masih saja bayangan paha itu datang. Lama2 aku tertidur juga. Sekitar jam 2 pagi aku terbangun. Rasanya aku bermimpi sesuatu yang enak. Coba kuingat-ingat, tak begitu jelas, sepertinya aku berduaan dengan seorang cewe entah siapa. Lalu cewe itu mengangkat roknya memperlihatkan paha mulusnya, semulus paha Tante. Aku mengusap-usap pahanya dan cewe itu melihat penisku tegang, dan dipegangnya penisku, digenggamnya. Aku merasakan enak luar biasa, dan geli-geli di penisku dan lalu aku ‘kencing’, dan kemudian terbangun.

Aku benar2 merasakan ada yang basah di bawah sana. Kuperiksa celanaku, benar basah, jadi aku “kencing” beneran. Belakangan aku baru tahu bahwa yang kualami tadi malam adalah mimpi basah, menandakan Aku memasuki masa pubertas.

Calon Asisten

April 28, 2008

Sudah sejak seminggu yang lalu Lenny sekretarisku mengeluh kalau pekerjaannya sekarang bertambah banyak, karena memang beberapa waktu ini aku membeli beberapa perusahaan baru untuk perluasan bisnisku. Sebagai sekretaris pribadi, maka Lenny harus mengetahui semua permasalahan bisnisku dengan mendetail sehingga dapat dimaklumi bahwa dia agak kerepotan juga menyelesaikan semua tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Karena dia terus mengeluh, maka aku menyuruh dia untuk mencari asisten untuk membantunya. Lenny sangat gembira karena aku mengijinkannya mencari asisten, tentu saja dia tak akan lupa dengan pesanku bahwa asistennya harus dapat memuaskan aku baik pekerjaannya maupun seksnya. Lenny hanya tertawa waktu mendengar permintaanku itu. Aku juga yakin bahwa tak terlalu sulit untuk mendapatkan sekretaris yang sehebat Lenny luar dalam, karena aku berani membayar sangat mahal untuk pelayanan mereka, namun yang menarik bagiku adalah kesempatan untuk menguji mereka secara langsung. Karena disinilah selera petualanganku aan terpuaskan dengan menggoda para calon sekretaris itu.

Setelah melalui screening yang ketat oleh personalia, Lenny akhirnya menyetujui 6 calon asisten yang untuk itu dimintanya aku untuk menguji langsung mereka itu. Lenny terus-menerus tersenyum ketika ia menceritakan betapa cantiknya para calon sekretaris yang melamar dan pasti aku akan bingung untuk memilihnya. Akupun hanya tertawa karena aku yakin pikiran Lenny sudah ngeres saja. Dalam hati aku sudah tak sabar menunggu jam makan siang, karena setelah itu para calon pegawaiku ini akan menghadapku.

Ketika aku kembali dari makan siang, kulihat diruang tunggu sudah berderet duduk beberapa gadis yang rata-rata berdandan rapi. Dari pandangan pertama aku mengakui bahwa mereka rata-rata cantik hanya saja kelihatannya kalau umurnya masih muda. Mereka semua memandangku dengan penuh harap sambil berusaha menunjukkan senyum yang terindah, aku membalas senyum mereka dan langsung masuk ke ruanganku. Lenny yang sudah menunggu aku langsung mendatangiku dan menanyakan apakah aku sudah siap untuk mulai wawancara. Aku mengangguk namun kusempatkan untuk bertanya pada Lenny, apakah semuanya masih perawan, Lenny menjawab bahwa perasaan dia ada dua yang masih perawan yaitu yang namanya Indah dan Ratih, kalau yang lainnya kelihatannya sudah punya pengalaman. Yang pertama masuk seorang gadis memakai rok ketat berwarna biru tua, wajahnya cantik dengan tubuh yang tinggi langsing. Dengan penuh hormat ia menjabat tanganku dan duduk didepanku sambil menyerahkan berkas wawancara dari staffku sebelumnya. Kubaca namanya adalah Hesti ia lulusan Akademi Sekretaris yang terkenal di kota Bandung umurnya baru 21 tahun.

Setelah mengetahui jati dirinya aku menutup map itu dan memandangnya tajam. Hesti menatap pandanganku dengan berani meskipun tetap sopan. Aku langsung menanyainya dengan beberapa hal yang umum mengenai kemampuannya, sementara mataku dengan teliti memandang wajah serta badannya. Aku kurang suka dengan Hesti ini karena badannya terlalu langsing meskipun susunya kelihatan cukup montok untuk badan selangsing dia itu. Setelah dia tak begitu canggung berbicara denganku, aku mulai memasang jebakanku, kutawari dia untuk merokok, Hesti kaget mendengar tawaranku itu, dengan ragu-ragu ia memandangku. ketika kukatakan bahwa kalau dia memang biasa merokok boleh saja merokok agar bisa lebih santai berbicara, barulah ia berani mengambil sebatang Marlboro yang kusodorkan.

Ketika kutanyakan apakah dia berkebaratan kalau aku bertanya hal hal yang bersifat pribadi, dia langsung menggelengkan kepalanya tanda tak keberatan. Aku tersenyum sambil membetulkan dudukku.
“Apakah Hesti sudah punya pacar?”, Hesti tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Apakah pacar Hesti juga tinggal di Bandung?”.
“Tidak Pak, pacar saya ada di Jakarta”.
“Oh, makanya Hesti kepengen kerja di Jakarta ya?” Hesti lagi-lagi mengangguk dan tersenyum manis.
“Apakah ini pacar Hesti yang pertama ataukah sebelumnya sudah sering berpacaran?
“Sering Pak, tetapi semuanya sudah putus karena tak cocok!”.
Aku tersenyum dan bertanya lagi, “Selama berpacaran, apa saja yang dilakukan oleh Hesti?”.
“Maksud Bapak bagaimana ya?”, Hesti balas bertanya.
“Maksud Bapak, apakah hanya sekedar omong-omong, atau dengan tindakan tindakan lain!

Hesti terdiam dan hanya tersenyum mendengar pertanyaanku yang mulai terarah itu.
“Sebagai seorang sekretaris, Hesti harus bisa menyimpan rahasia perusahaan secara maksimal, maka bagi Bapak, kalau Hesti bisa berkata jujur mengenai diri Hesti, berarti juga Hesti bisa dipercaya untuk memegang rahasia perusahaan!”.
Mendengar itu Hesti baru berani menjawab, ” Ya kadang kadang omong-omong, kadang-kadang juga yang lainnya Pak!”.
“Yang lainnya bagaimana?” kejarku, Hesti tak menjawab tetapi hanya senyum saja.
“Apa berciuman?” Hesti mengangguk.
“Apakah pacar Hesti suka meremas-remas buah dada Hesti?” dengan wajah sedikit malu Hesti mengangguk.
“Sekarang coba jujur pada Bapak ya, apakah Hesti pernah berhubungan seks?”, dengan wajah yang makin merah Hesti menganggukkan kepalanya.
Kukejar lagi dengan pertanyaan, “Sudah dengan berapa pria Hesti berhubungan seks?
Hesti menjawab, “Empat orang Pak!”

Aku tidak terlalu terkejut dengan pengakuan Hesti ini, tetapi karena aku tak terlalu tertarik dengan Hesti, maka aku tidak berusaha untuk mengajaknya untuk main, aku hanya ingin mengetahui keadaan Hesti luar dalam dan nantinya memberi dia duit agar supaya kalau tokh dia tidak kuterima maka aku tidak dituntutnya macam-macam. Dari laci mejaku kukeluarkan sebendel uang limapuluh ribuan senilai 5 juta rupiah, aku berkata kepada Hesti, bahwa aku ingin melihat dia membuka pakaiannya agar aku dapat lebih mengenal dia secara nyata, untuk itu akan kuberikan uang 5 juta rupiah yang ada di depannya itu. Kalau nanti dia diterima, maka uang itu tetap menjadi miliknya, sedangkan kalau tidak maka uang itu sebagai hadiah dariku. Hesti ternganga mendengar perintahku yang tak pernah didengarnya itu, tetapi ia benar-benar siap untuk apapun rupanya.

Dengan agak gemetar ia berdiri dan mulai membuka pakaiannya satu persatu, aku hanya duduk saja di depannya. Seperti yang kuduga buah dada Hesti cukup montok untuk badan ceking seperti itu, ketiaknya juga bersih mulus tanpa bulu selembarpun, ketika BH-nya dilepas, tampaklah buah dadanya yang kelihatannya sudah agak mengendur dan penuh dengan kecupan merah. Dari situ aku yakin kalau Hesti ini doyan main! Ketika Hesti membuka rok dan sekaligus celana dalamnya, penisku agak tegang juga, karena selangkangan Hesti ditumbuhi dengan bulu yang cukup rimbun. Setelah telanjang, Hesti berdiri mematung di depanku sambil tersenyum dan menunduk. Aku berdiri mendekati dia dan menyentuh susunya yang kurasakan agak empuk begitu juga dengan pantatnya, ketika kuraba bulu vaginanya, Hesti merangkulku seperti orang yang kaget. Aku diam saja, hanya jariku yang mulai menyelinap di antara celah pahanya mencari liang vaginanya. Hesti mengerang ketika jariku menyentuh clitorisnya, tangannya meremas-remas bahuku tanpa berkata apa-apa. Aku merasa semuanya sudah cukup, maka aku kembali duduk di kursiku dan kusuruh dia kembali berpakaian.

Setelah kuberikan uang dalam amplop itu, kuucapkan terima kasih dan kuminta Hesti menunggu kabar dari personalia. Hesti juga mengucapkan terima kasih dan meninggalkanku. Setelah itu masuk berturut-turut, Meity, Retno, Onny dan Ratih yang perkiraan Lenny masih perawan. Meity, Retno maupun Onny semuanya juga kuberi hadiah 5 juta rupiah setiap kali mereka telanjang bulat di depanku, semuanya berbadan bagus dengan susu yang montok, benar-benar berat bagiku untuk menahan diri menghadapi vagina yang masih muda dan segar seperti milik mereka itu. Ketika Onny telanjang di depanku aku tak tahan untuk tak menciumi vaginanya yang berwarna merah muda itu, kujilati clitorisnya sampai Onny merintih-rintih, begitu juga dengan Retno yang sempat merasakan tusukan penisku meskipun hanya sampai dasar dan segera kucabut kembali. Ratih yang diduga Lenny perawan ternyata juga sudah tak perawan, justru cewek satu ini yang berani terang-terangan mengajakku untuk main tetapi aku ragu-ragu karena aku hanya mau main dengan calon pegawai yang betul-betul akan kuterima saja, yang lainnya cukup main-main saja.

Kesabaran dan ketahananku akhirnya berbuah juga, ketika calon sekretarisku yang bernama Wulan masuk, aku merasakan kalau inilah cewek yang tepat untuk mendampingi Lenny sebagai sekretaris, mataku dengan tak sungkan-sungkan melahap wajah dan tubuh Wulan yang tinggi besar itu. Wajahnya cantik dengan tipe Jawa, hidungnya mancung dan kulitnya putih, bibirnya sangat sensual dengan lipstick merah tua. Blousenya yang berpotongan rendah dilapisi jas berwarna biru tua, sepintas aku dapat melihat lekuk buah dadanya yang dalam menandakan kalau buah dada pemiliknya montok. Dari penampilannya, sepertinya cewek yang satu ini alim, tetapi aku yakin kalau sebenarnya dia ini super hot dan sangat sesuai dengan seleraku. Pandanganku yang jalang itu, tidak membuat dia rikuh, malah dia tersenyum manja waktu mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tangannya empuk dan hangat sekali, begitu juga dengan suaranya yang agak bernada bass itu. Semuanya sangat memuaskan seleraku, hanya sekarang tergantung bagaimana aku dapat mengolah agar dia dapat aku sikat dan selanjutnya akan kupakai untuk membantu Lenny. Pikiranku sudah membayangkan kalau mereka berdua aku sikat sekaligus diruang ini, pasti asyik.

Setelah berbasa basi dengan menanyakan beberapa hal yang sifatnya formil, aku mulai menanyakan hal hal yang sensitif, karena begitu bernafsu akau merasakan kalau suaraku agak gemetar, tetapi justru yang kulihat Wulan malah tersenyum melihat gayaku itu.

“Wulan keberatan nggak kalau saya tanya hal hal yang sifatnya pribadi, karena sebagai tangan kanan Bapak, tentunya Bapak juga ingin tahu hal hal seperti itu”.
“Tentu saja boleh Pak, silakan Bapak tanya apa saja!”, Aku menelan ludah mendengar jawaban Wulan yang menantang itu.
“Wulan tingginya berapa ya?”.
“Seratus tujuh puluh enam senti Pak”.
“Berapa ukuran vital Wulan?”.
“Dada 36, pinggang 30, pinggul 38″, Aku tersenyum mendengar ukuran vitalnya yang hebat itu, Wulan juga menyeringai melihat aku tersenyum itu.
“Masak dada Wulan sebesar itu, kelihatannya kok nggak ya!”.
“Benar kok Pak, Wulan nggak bohong”, jawabnya mengajuk.
“Coba Wulan buka jasnya, biar Bapak bisa melihat lebih jelas!”.

Tanpa ragu-ragu Wulan berdiri dan melepas jasnya, ternyata Blouse Wulan tak berlengan sehingga aku dapat melihat lengannya yang putih mulus itu. Memang setelah Wulan hanya memakai blouse, baru kelihatan kalau susunya memang besar. Ketika kusuruh Wulan mengangkat lengannya, kelihatan juga kalau ketiaknya penuh bulu yang sangat aku sukai. Aku makin bernafsu melihat tubuh Wulan yang sip ini, tetapi aku masih harus berusaha agar Wulan benar benar dapat kutiduri, karenanya aku masih harus terus berusaha.
“Apakah Wulan pernah melihat blue film?”
“Pernah Pak”.
“Sering?”.
“Sering”.
“Coba ceritakan pada Bapak apa yang kamu sukai kalau nonton blue film itu!”

Wulan pertamanya agak ragu untuk menjawab, tetapi akhirnya keluar juga jawabannya.
“Wulan senang kalau mereka melakukan adegan pemanasan, dan juga melihat mimik muka ceweknya kalau puas! Aku rasanya sudah tak tahan lagi ingin menubruk Wulan, tetapi aku masih menahan diri.
“Wulan, coba ya behanya dilepas, Bapak ingin melihat buah dada Wulan!”.
“Apa blousenya juga dilepas Pak?”.
“Terserah!”.

Kembali Wulan berdiri, dia dengan tenang membuka blousenya serta kemudian melepas pengait behanya. Benar-benar fantastis payudara Wulan, besar, montok, putih namun sedikit kendor. Aku sejenak terpana memandangnya, tetapi aku langsung dapat menguasai diriku dan berdiri dan berjalan memutari mejaku mendekati Wulan. Tanpa ragu kedua tanganku langsung meremas payudara Wulan dengan lembut. Wulan hanya diam saja, merasakan empuknya payuadara Wulan aku tahu kalau dia sudah tidak gadis lagi. Remasan tanganku ke payudara Wulan menyebabkan puting susunya mulai mengeras, aku menyelusupkan tanganku ke ketiaknya dan mengangkat lengannya tinggi-tinggi, kuperhatikan ketiaknya yang penuh dengan bulu hitam itu dan tanpa sadar aku sudah menciuminya.

Saat itulah Wulan mulai mendesah kegelian, aku terus menciumi bulu ketiaknya yang berbau harum oleh karena deodorant itu untuk kemudian ciumanku mulai mengarah keputing susunya.
Wulan dengan agak berbisik berkata, “Pak, nanti ada yang melihat lho, Wulan takut!”, Aku mana peduli dengan semua itu. Justru sambil mengulum puting susunya aku mulai melepaskan rok yang dipakainya. Dengan mudah kulepaskan rok bawah Wulan demikian juga dengan celana dalamnya, ketika kuraba selangkangan Wulan dapat kurasakan ketebalan bulu vaginanya di telapak tanganku, ketika jariku menyelinap ke dalam vaginanya. Wulan makin menggelinjang dan meremas pundakku tanpa bersuara sedikitpun. Karena aku tahu waktuku hanya sebentar, maka aku menghentikan ciumanku dan mulai melepasi pakaianku sendiri. Wulan hanya berdiri saja melihat aku melepaskan semua pakaianku itu, matanya terbeliak ketika kulepas celana dalamku sehingga penisku tersembul keluar.
Dengan terbata-bata ia berkata “Pak saya takut Pak, punya Bapak besar sekali, nanti nggak cukup lho Pak, saya baru beberapa kali bersetubuh! Aku berbisik agar ia tak takut karena aku akan hati hati dan kujamin dia tak merasa sakit.

Kubaringkan Wulan di sofa yang ada di kantorku, dan aku kembali ke mejaku. Tanpa diketahui Wulan aku memejet interkom untuk memanggil Lenny, Lenny yang telah mengerti dengan kode dari aku segera masuk ke ruanganku dengan tenangnya. Tetapi lain dengan Wulan yang langsung meloncat kaget dengan wajah pucat pasi dan kebingungan mencari penutup tubuh.
“Wulan nggak usah takut, tokh nanti kalau kamu kerja juga bersama dengan Mbak Lenny, jadi rahasiamu juga jadi rahasia Mbak Lenny ya!”, Wulan hanya diam saja dengan wajah merah menatap Lenny yang tersenyum manis kepadanya. Ketika kutanyakan dimana kondom yang kubutuhkan, Lenny mengeluarkannya dari saku dan membukanya untuk kemudian dengan berjongkok ia memasangnya di penisku yang sudah berdiri kaku itu, karena memang tujuannya agar supaya Wulan tidak rikuh dengan dirinya, Lenny secara sengaja mengulum penisku dulu sebelum memasang kondom bahkan dengan demonstratif ia menelan seluruh penisku hingga tinggal pelirku saja. Wulan memandang semua itu dengan wajah merah padam, entah karena malu atau karena nafsunya yang sudah naik. Yang pasti ia diam saja ketika Lenny duduk di atas meja kerjaku sementara aku mendekatinya, kurenggangkan kaki Wulan sehingga vaginanya kelihatan merekah merah tua.

Pelan-pelan kusapukan lidahku kepinggir vagina Wulan, Wulan langsung mendesah dan mendorong kepalaku, aku diam saja malahan kuteruskan jilatanku pada clitorisnya yang bulat itu, Wulan merintih rintih kegelian, tanganku tak tinggal diam juga ikut meremas remas susunya yang montok itu. Wulan dengan gemetar meraih penisku dan diremasnya penisku dengan gemas sekali. Aku juga kasihan melihat Wulan yang demikian kebingungan karena merasakan kegelian yang luar biasa itu, tetapi tujuanku sebenarnya agar dia tak terlalu merasa sakit bila penisku yang gede itu menembus vaginanya.

Langsung saja aku mengarahkan penisku ke liang vaginanya yang sudah basah kuyup dan merekah itu, ketika kulihat ujungnya sudah terselip diantara bibir vagina Wulan, pelan-pelan kutekan masuk. Wulan menggigit bibirnya sementara tangannya memegang pantatku entah mau menahan atau malahan mendorong, yang pasti penisku dengan pelan berhasil juga masuk seluruhnya ke dalam liang vaginanya. Vagina Wulan terasa legit sekali, rasa hangat yang menjepit penisku membuat aku menggigit bibir karena enaknya. Tetapi seperti yang kuduga, Wulan kurang berpengalaman dalam persetubuhan, karena meskipun penisku sudah mentok menyentuh leher rahimnya, ia diam saja bahkan menutup matanya.

Aku berbisik di telinganya agar Wulan juga menggerakkan pantatnya, tetapi Wulan tetap diam saja. Gerakan penisku naik turun membuat vagina Wulan bertambah basah dan becek, aku benar-benar kecewa dengan vagina Wulan ini, rasanya aku kepengen mencabut penisku dan berpindah ke vagina Lenny yang pasti lebih pulen dibanding punya Wulan itu, tetapi aku tak mau melukai perasaan Wulan. Dengan agak tergesa-gesa aku mempercepat genjotanku agar aku segera mencapai puncak kenikmatanku, tetapi dasar masih belum berpengalaman, tiba-tiba saja Wulan merintih keras, sementara kurasakan vaginanya mengejang. Rupanya Wulan sudah mencapai puncak kepuasannya, badannya berkeringat dan kakinya erat melingkar dipantatku. Dengan beberapa sentakan lagi, akupun memuntahkan air maniku yang tertampung dalam kondom yang kupakai. Begitu rasa geli mulai hilang dari ujung penisku, aku segera mencabut penisku dan kusuruh Lenny mengajak Wulan untuk keluar dari ruanganku. Lenny tersenyum melihatku, ia tahu bahwa aku kurang puas dengan permainan Wulan, pasti nantinya Lenny harus bekerja keras untuk mendidik Wulan agar tahu seleraku dalam bermain main! Kuingatkan Lenny agar tak lupa memberi Wulan uang serta memanggilnya lagi untuk masuk kerja.

Papaku Yang Nakal

April 28, 2008

Perkenalkan namaku Vina, usiaku 16 tahun. Aku sekarang duduk di kelas II SMU di Medan. Aku punya pengalaman pertama merengkuh surga dunia. Tetapi semua itu kulakukan dengan papa tiriku. Pengalamanku ini sebagai referensi buat teman-teman yang lain. Aku tahu kalau perbuatan ini salah, tetapi aku tidak tahu bagaimana menghentikannya. Baiklah, ceritaku begini.

Suatu hari aku mendapat pengalaman yang tentunya baru untuk gadis seukuranku. Oya, aku gadis keturunan Cina dan Pakistan. Sehingga wajar saja kulitku terlihat putih bersih dan satu lagi, ditaburi dengan bulu-bulu halus di sekujur tubuh yang tentu saja sangat disukai lelaki. Kata teman-teman, aku ini cantik lho.

Memang siang ini cuacanya cukup panas, satu persatu pakaian yang menempel di tubuhku kulepas. Kuakui, kendati masih ABG tetapi aku memiliki tubuh yang lumayan montok. Bila melihat lekuk-lekuk tubuh ini tentu saja mengundang jakun pria manapun untuk tersedak. Dengan rambut kemerah-merahan dan tinggi 167 cm, aku tampak dewasa. Sekilas, siapapun mungkin tidak percaya kalau akuadalah seorang pelajar. Apalagi bila memakai pakaian casual kegemaranku. Mungkin karena pertumbuhan yang begitu cepat atau memang sudah keturunan, entahlah. Tetapi yang jelas cukup mempesona, wajah oval dengan leher jenjang, uh.. entahlah.

Pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah, seperti biasanya aku berpamitan dengan kedua orangtuaku. Cium pipi kiri dan kanan adalah rutinitas dan menjadi tradisi di keluarga ini. Tetapi yang menjadi perhatianku siang ini adalah ciuman Papa. Seusai sarapan pagi, ketika Mama beranjak menuju dapur, aku terlebih dahulu mencium pipi Papa. Papa Robi (begitu namanya) bukan mencium pipiku saja, tetapi bibirku juga. Seketika itu, aku sempat terpaku sejenak. Entah karena terkejut untuk menolak atau menerima perlakukan itu, aku sendiri tidak tahu.

Papa Robi sudah setahun ini menjadi Papa tiriku. Sebelumnya, Mama sempat menjanda tiga tahun. Karena aku dan kedua adikku masih butuh seorang ayah, Mama akhirnya menikah lagi. Papa Robi memang termasuk pria tampan. Usianya pun baru 38 tahun. Teman-teman sekolahku banyak yang cerita kalau aku bersukur punya Papa Robi.
“Salam ya sama Papa kamu..” ledek teman-temanku.

Aku sendiri sebenarnya sedikit grogi kalau berdua dengan Papa. Tetapi dengan kasih sayang dan pengertian layaknya seorang teman, Papa pandai mengambil hatiku. Hingga akhirnya aku sangat akrab dengan Papa, bahkan terkadang kelewat manja. Tetapi Mama tidak pernah protes, malah dia tampak bahagia melihat keakraban kami.

Tetapi ciuman Papa tadi pagi sungguh diluar dugaanku. Aku memang terkadang sering melendot sama Papa atau duduk sangat dekat ketika menonton TV. Tetapi ciumannya itu lho. Aku masih ingat ketika bibir Papa menyentuh bibir tipisku. Walau hanya sekejab, tetapi cukup membuat bulu kudukku merinding bila membayangkannya. Mungkin karena aku belum pernah memiliki pengalaman dicium lawan jenis, sehingga aku begitu terkesima.
“Ah, mungkin Papa nggak sengaja..” pikirku.

Esok paginya seusai sarapan, aku mencoba untuk melupakan kejadian kemarin. Tetapi ketika aku memberikan ciuman ke Mama, Papa beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar. Mau tidak mau kuikuti Papa ke kamar. Aku pun segera berjinjit untuk mencium pipi Papa. Respon Papa pun kulihat biasa saja. Dengan sedikit membungkukkan tubuh atletisnya, Papa menerima ciumanku. Tetapi setelah kucium kedua pipinya, tiba-tiba Papa mendaratkan bibirnya ke bibirku. Serr.., darahku seketika berdesir. Apalagi bulu-bulu kasarnya bergesekan dengan bibir atasku. Tetapi entah kenapa aku menerimanya, kubiarkan Papa mengulum lembut bibirku. Hembusan nafas Papa Robi menerpa wajahku. Hampir satu menit kubiarkan Papa menikmati bibirku.
“Baik-baik di sekolah ya.., pulang sekolah jangan keluyuran..!” begitu yang kudengar dari Papa.

Sejak kejadian itu, hubungan kami malah semakin dekat saja. Keakraban ini kunikmati sekali. Aku sudah dapat merasakan nikmatnya ciuman seorang lelaki, kendati itu dilakukan Papa tiriku, begitu yang tersirat dalam pikiranku. Darahku berdesir hangat bila kulit kami bersentuhan.

Begitulah, setiap berangkat sekolah, ciuman ala Papa menjadi tradisi. Tetapi itu rahasia kami berdua saja. Bahkan pernah satu hari, ketika Mama di dapur, aku dan Papa berciuman di meja makan. Malah aku sudah berani memberikan perlawanan. Lidah Papa yang masuk ke rongga mulutku langsung kuhisap. Papa juga begitu. Kalau tidak memikirkan Mama yang berada di dapur, mungkin kami akan melakukannya lebih panas lagi.

Hari ini cuaca cukup panas. Aku mengambil inisiatif untuk mandi. Kebetulan aku hanya sendirian di rumah. Mama membawa kedua adikku liburan ke luar kota karena lagi liburan sekolah. Dengan hanya mengenakan handuk putih, aku sekenanya menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh, aku merasakan segar di tubuhku.

Begitu hendak masuk kamar, tiba-tiba satu suara yang cukup akrab di telingaku menyebut namaku.

“Vin.. Vin.., Papa pulang..” ujar lelaki yang ternyata Papaku.
“Kok cepat pulangnya Pa..?” tanyaku heran sambil mengambil baju dari lemari.
“Iya nih, Papa capek..” jawab papa dari luar.
“Kamu masak apa..?” tanya papa sambil masuk ke kamarku.
Aku sempat kaget juga. Ternyata pintu belum dikunci. Tetapi aku coba tenang-tenang saja. Handuk yang melilit di tubuhku tadinya kedodoran, aku ketatkan lagi. Kemudian membalikkan tubuh. Papa rupanya sudah tiduran di ranjangku.

“Ada deh..,” ucapku sambil memandang Papa dengan senyuman.
“Ada deh itu apa..?” tanya Papa lagi sambil membetulkan posisi tubuhnya dan memandang ke arahku.
“Memangnya kenapa Pa..?” tanyaku lagi sedikit bercanda.
“Nggak ada racunnya kan..?” candanya.
“Ada, tapi kecil-kecil..” ujarku menyambut canda Papa.
“Kalau gitu, Papa bisa mati dong..” ujarnya sambil berdiri menghadap ke arahku.
Aku sedikit gelagapan, karena posisi Papa tepat di depanku.
“Kalau Papa mati, gimana..?” tanya Papa lagi.
Aku sempat terdiam mendengar pertanyaan itu.
“Lho.., kok kamu diam, jawab dong..!” tanya Papa sambil menggenggam kedua tanganku yang sedang memegang handuk.

Aku kembali terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukan jawabannya yang membuatku diam, tetapi keberadaan kami di kamar ini. Apalagi kondisiku setengah bugil. Belum lagi terjawab, tangan kanan Papa memegang daguku, sementara sebelah lagi tetap menggenggam tanganku dengan hangat. Ia angkat daguku dan aku menengadah ke wajahnya. Aku diam saja diperlakukan begini. Kulihat pancaran mata Papa begitu tenangnya. Lalu kepalanya perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Papa mengulum bibir merahku. Perlahan tetapi pasti, aku mulai gelisah. Birahiku mulai terusik. Tanpa kusadari kuikuti saja keindahan ini.

Nafsu remajaku mulai keluar ketika tangan kiri Papa menyentuh payudaraku dan melakukan remasan kecil. Tidak hanya bibirku yang dijamah bibir tebal Papa. Leher jenjang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tidak luput dari sentuhan Papa. Bibir itu kemudian berpindah ke telingaku.
“Pa..” kataku ketika lidah Papa masuk dan menggelitik telingaku.

Papa kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur empuk.
“Pa.. nanti ketahuan Mama..” sebutku mencoba mengingatkan Mama.
Tetapi Papa diam saja, sambil menindih tubuhku, bibirku dikecupnya lagi. Tidak lama, handuk yang melilit di tubuhku disingkapkannya.
“Vina, tubuh kamu sangat harum..” bisik Papa lembut sambil mencampakkan guling ke bawah.
Dalam posisi ini, Papa tidak puas-puasnya memandang tubuhku. Bulu halus yang membalut kulitku semakin meningkatkan nafsunya. Apalagi begitu pandangannya mengarah ke payudaraku.
“Kamu udah punya pacar, Vin..?” tanya Papa di telingaku.
Aku hanya menggeleng pasrah.

Papa kemudian membelai dadaku dengan lembut sekali. Seolah-olah menemukan mainan baru, Papa mencium pinggiran payudaraku.
“Uuhh..,” desahku ketika bulu kumis yang dipotong pendek itu menyentuh dadaku, sementara tangan Papa mengelus pahaku yang putih. Puting susu yang masih merah itu kemudian dikulum.
“Pa.. oohh..” desahku lagi.

“Pa.. nanti Mamm..” belum selesai kubicara, bibir Papa dengan sigap kembali mengulum bibirku.
“Papa sayang Vina..” kata Papa sambil memandangku.
Sekali lagi aku hanya terdiam. Tetapi sewaktu Papa mencium bibirku, aku tidak diam. Dengan panasnya kami saling memagut. Saat ini kami sudah tidak memikirkan status lagi. Puas mengecup putingku, bibir Papa pun turun ke perut dan berlabuh di selangkangan. Papa memang pintar membuatku terlena. Aku semakin terhanyut ketika bibir itu mencium kemaluanku. Lidahnya kemudian mencoba menerobos masuk. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku pun mengejang dan merasakan ada sesuatu yang mengalir cepat, siap untuk dimuntahkan.
“Ohh, ohh..” desahku panjang.

Papa rupanya tahu maniku keluar, lalu dia mengambil posisi bersimpuh di sebelahku. Lalu mengarahkan tanganku ke batang kemaluannya. Kaget juga aku melihat batang kemaluannya Papa, besar dan tegang. Dengan mata yang sedikit tertutup, aku menggenggamnya dengan kedua tanganku. Setan yang ada di tubuh kami seakan-akan kompromi. Tanpa sungkan aku pun mengulum benda itu ketika Papa mengarahkannya ke mulutku.
“Terus Vin.., oh.. nikmatnya..” gumamnya.
Seperti berpengalaman, aku pun menikmati permainan ini. Benda itu keluar masuk dalam mulutku. Sesekali kuhisap dengan kuat dan menggigitnya lembut. Tidak hanya Papa yang merasakan kenikmatan, aku pun merasakan hal serupa. Tangan Papa mempermainkan kedua putingku dengan tangannya.

Karena birahi yang tidak tertahankan, Papa akhirnya mengambil posisi di atas tubuhku sambil mencium bibirku dengan ganas. Kemudian kejantanannya Papa menempel lembut di selangkanganku dan mencoba menekan. Kedua kakiku direntangkannya untuk mempermudah batang kemaluannya masuk. Perlahan-lahan kepala penis itu menyeruak masuk menembus selaput dinding vaginaku.
“Sakit.. pa..” ujarku.
“Tenang Sayang, kita nikmati saja..” jawabnya.
Pantat Papa dengan lembut menekan, sehingga penis yang berukuran 17 cm dan berdiameter 3 cm itu mulai tenggelam keseluruhan.

Papa melakukan ayunan-ayunan lagi. Kuakui, Papa memang cukup lihai. Perasaan sakit akhirnya berganti nikmat. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Pantas orang bilang surga dunia. Aku mengimbangi kenikmatan ini dengan menggoyang-goyangkan pantatku.
“Terus Vin, ya.. seperti itu..” sebut Papa sambil mempercepat dorongan penisnya.
“Papa.. ohh.., ohh..” renguhku karena sudah tidak tahan lagi.
Seketika itu juga darahku mengalir cepat, segumpal cairan putih meleleh di bibir vaginaku. Kutarik leher Papa hingga pundaknya kugigit keras. Papa semakin terangsang rupanya. Dengan perkasa dikuasainya diriku.

Vagina yang sudah basah berulangkali diterobos penis papa. Tidak jarang payudaraku diremas dan putingku dihisap. Rambutku pun dijambak Papa. Birahiku kembali memuncak. Selama tiga menit kami melakukan gaya konvensional ini. Tidak banyak variasi yang dilakukan Papa. Mungkin karena baru pertama kali, dia takut menyakitiku.

Kenikmatan ini semakin tidak tertahankan ketika kami berganti gaya. Dengan posisi 69, Papa masih perkasa. Penis Papa dengan tanpa kendali keluar masuk vaginaku.
“Nikmat Vin..? Ohh.. uhh..” tanyanya.
Terus terang, gaya ini lebih nikmat dari sebelumnya. Berulangkali aku melenguh dan mendesah dibuatnya.
“Pa.. Vina nggak tahan..” katakuku ditengah terjangan Papa.
“Sa.. sa.. bar Sayang.., ta.. ta.. han dulu..” ucap Papa terpatah-patah.
Tetapi aku sudah tidak kuat lagi, dan untuk ketiga kalinya aku mengeluarkan mani kembali.
“Okhh.. Ohkk.. hh..!” teriakku.
Lututku seketika lemas dan aku tertelungkup di ranjang. Dengan posisi telungkup di ranjang membuat Papa semakin belingsatan. Papa semakin kuat menekan penisnya. Aku memberikan ruang dengan mengangkat pantatku sedikit ke atas. Tidak berapa lama dia pun keluar juga.
“Okhh.. Ohh.. Ohk..” erang Papa.
Hangat rasanya ketika mani Papa menyiram lubang vaginaku.

Dengan peluh di tubuh, Papa menindih tubuhku. Nafas kami berdua tersengal-sengal. Sekian lama Papa memelukku dari belakang, sementara mataku masih terpejam merasakan kenikmatan yang baru pertama kali kualami. Dengan penis yang masih bersarang di vaginaku, dia mencium lembut leherku dari belakang.
“Vin, Papa sayang Vina. Sebelum menikahi Mamamu, Papa sudah tertarik sama Vina..” ucap Papa sambil mengelus rambutku.

Mama dan adikku, tiga hari di rumah nenek. Selama tiga hari itu pula, aku dan Papa mencari kepuasan bersama. Entah setan mana yang merasuki kami, dan juga tidak tahu sudah berapa kali kami lakukannya. Terkadang malam hari juga, walaupun Mama ada di rumah. Dengan alasan menonton bola di TV, Papa membangunkanku, yang jelas perbuatan ini kulakukan hingga sekarang.

Ranting Patah – 4

April 28, 2008

Kulepaskan tubuh Febi, kambali kami bercinta dengan doggie style, tak terasa lebih setengah jam kami bercinta, belum ada tanda tanda orgasme diantara kami. Kami berganti posisi, Febi sudah di pangkuanku, tubuhnya turun naik mengocokku, buah dadanya berayun ayun di mukaku, segera kukulum dan kusedot dengan penuh gairah hingga kepalaku terbenam diantara kedua bukitnya. Gerakan Febi berubah menjadi goyangan pinggul, berputar menari hula hop di pangkuanku, berulang kali dia menciumiku dengan gemas, sungguh tak pernah terbayangkan kalau akhirnya aku bisa saling mengulum dengannya. Tak lama kemudian, tiba tiba Febi menghentikan gerakannya, dia juga memintaku untuk diam.

“Sebentar Om, Febi nggak mau keluar sekarang, masih banyak yang kuharapkan dari Om” katanya sambil lebih membenamkan kepalaku di antara kedua bukitnya, aku hampir tak bisa napas.
“Kamu turun dulu” pintaku
“Tapi Om, Febi kan belum” protesnya
“Udahlah percaya Om” potongku
Kutuntun dan kuputar tubuhnya menghadap dinding, kubungkukkan sedikit lalu kusapukan penisku ke vaginanya dari belakang, Febi mengerti maksudku, kakinya dibuka lebih lebar, mempermudah aku melesakkan penisku. Tubuhnya makin condong ke depan, desah kenikmatan mengiringi masuknya penisku mengisi vaginanya.
“ss.. aduuh Om, enak Om.. belum pernah aku.. aauu” desahnya sambil membalas gerakanku dengan goyangan pinggulnya yang montok.
Kami saling bergoyang pinggul, saling memberi kenikmatan sementara tanganku menggerayangi dan meremas buah dadanya. Nikmat sekali goyangan Febi, lebih nikmat dari sebelumnya, berulang kali dia menoleh memandangku dengan sorot mata penuh kepuasan, mungkin dia belum pernah melakukan dengan posisi seperti ini. Tubuhnya makin lama makin membungkuk hingga tangannya sudah tertumpu meja sebelah. Kudorong sekalian hingga dia telungkup di atasnya, aku tetap masih mengocoknya dari belakang, dia menaikkan satu kakinya di pinggiran meja, penisku melesak makin dalam, kocokanku makin keras, sekeras desah kenikmatannya. Kubalikkan tubuhnya, dia telentang di atas meja, kunaikkan satu kakinya di pundakku, kukocok dengan cepat dan sedalam mungkin.
“ss.. eegghh.. udaahh oom, Febi nggaak kuaat, mau keluar niih” desahnya
“Sama Om juga”
“Kita sama sama, keluarin di dalam saja, aman kok, Febi pake pil, jangan ku.. aa.. sshhiit” belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya ternyata sudah orgasme duluan, aku makin cepat mengocoknya, tak kuhiraukan teriakan orgasme Febi, makin keras teriakannya makin membuatku bernafsu. Semenit kemudian aku menyusulnya ke puncak kenikmatan, kembali dia teriak keras ketika penisku berdenyut menyemprotkan sperma di vaginanya. Aku telah membasahi vagina dan rahim keponakanku dengan spermaku, dia menahanku ketika kucoba menarik keluar.
“Tunggu, biarkan keluar sendiri” cegahnya, maka kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, kucium kening dan pipinya sebelum akhirnya kucium bibirnya.
“Makasih Om, permainan yang indah, the best deh pokoknya” bisiknya menatapku tajam.
Kuhindari tatapannya, tak sanggup aku melawan tatapan tajam keponakanku itu.
Jarum jam masih menunjukkan pukul 17:30, entah sudah berapa lama aku melayani kedua gadis ini, gelapnya malam mulai menyelimuti Kota Semarang, para pedagang kaki lima di simpang lima sudah mulai menata dagangannya. Aku sempat tertidur sejenak diantara kedua gadis itu sebelum mereka membangunkanku untuk makan malam, jam 19:30. Kami memutuskan untuk makan di luar sambil shoping di Mall sebelah hotel. Ternyata mereka lebih senang shopping lebih dulu dari pada makan malam, padahal aku sudah lapar akibat bekerja terlalu keras, terpaksa aku memenuhi keinginan kedua gadis itu. Diluar dugaanku justru mereka memilih untuk belanja parfum, lingerie dan pakaian dalam, aku ikutan memilihkan untuk mereka, tentu saja yang kuanggap sexy, tak jarang aku diminta memberikan penilaian ketika mereka mencoba bra di ruang ganti, tentu dengan senang hati aku memenuhinya. Tak lupa kami membeli beberapa VCD porno di pinggiran jalan.
Kami kembali ke hotel hampir pukul 22:00, kuminta mereka memakai apa yang baru mereka beli, sungguh sexy dan menggairahkan kedua bidadari itu mengenakan pakaian dalam yang serba mini pilihanku, hampir semuanya dicoba, tapi aku sudah tak tahan lagi melihat penampilan mereka. Saat mereka berganti lagi untuk ketiga kalinya, aku sudah tak sanggup menahan lebih lama lagi, terutama melihat tubuh sexy Febi, kutarik mereka ke ranjang dan kucumbui mereka bersamaan, kami saling bergulingan seperti anak kecil sedang bermain main. Mereka berebutan melepas pakaian dan celanaku, bahkan suit untuk menentukan siapa yang melepas celana dalamku. Bersama sama mereka mulai menjilati dan mengulum penisku, kedua lidah gadis itu secara bersamaan menyusuri penis dan kantong bola dengan gerakan berbeda, aku segera melayang tinggi didampingi kedua bidadari ini.
“Om percaya nggak, Desi itu udah lama lho kagum sama Om, jadi ini sudah menjadi fantasinya” kata Febi disela kulumannya.
“Ih kamu buka rahasia deh” Desi yang sedang menjilati pahaku mencubih Febi, mereka berdua tertawa sambil terus menjilatiku.
Kedua tanganku meremas remas dua buah dada yang berbeda, baik kekenyalan maupun besarnya, punya Febi lebih besar tapi Desi lebih kenyal dan padat. Febi lebih cepat mengambil inisiatif, kakinya dilangkahkan ke tubuhku hingga posisi 69, Desi yang kalah cepat bergeser di antara kakiku, sambil menjilati Febi aku masih bisa merasakan kuluman dari dua mulut yang berbeda. Ketika Febi menegakkan tubuhnya melepaskan kulumannya pada penisku, Desi segera mengambil posisi untuk memasukkan penisku ke vaginanya, rupanya takut keduluan Febi dia tak mempedulikan lagi kondomnya seperti sebelumnya, kurasakan vaginanya yang rapat mencengkeram erat penisku, apalagi tanpa kondom, kurasakan makin kuat mencengkeram, hingga semua tertanam dia tak berani bergerak.
“Om kalo keluar bilang ya” rupanya dia masih sedikit sadar
Perlahan tubuhnya turun naik dan mulai menggoyangkan pinggul, penisku terasa diremas dengan hebat, gerakannya makin cepat dan tidak beraturan. Tak lebih lima menit dia turun dari tubuhku.
“Feb, giliranmu, aku nggak udah tahan, bisa keluar duluan aku nanti, habis enak banget sih” katanya.
Mereka bertukar posisi, sepeti sebelumnya penisku langsung masuk ke vagina Febi tanpa hambatan yang berarti, berbeda dengan Desi yang mendiamkan sesaat sebelum mengocok, tubuh Febi langsung turun naik dengan cepatnya, pinggangnya berputar putar sambil tangannya mengelus kantong bola. Aku tak bisa melihat ekspresi wajah Febi karena mukaku tertutup pantat Desi yang tepat berada di atasku dengan vagina terbuka lebar. Jerit dan desahan kedua gadis di atasku saling bersahutan merasakan kenikmatan yang berbeda.
Tak lama kemudian Febi turun, Desi mengikutinya, kedua gadis itu lalu telentang bersebelahan dan membuka kakinya lebar lebar seakan mempersilahkan aku untuk memilihnya, aku bingung, kutatap mata keduanya, sama sama memberikan pandangan yang menggairahkan. Aku yakin Desi tidak bisa bertahan lama, maka kupilih Desi duluan supaya aku bisa menikmati Febi lebih lama dan memuntahkan spermaku ke vagina keponakanku itu.
“Om janji ya kalo keluar di luar saja” katanya ketika aku mendekatinya.
“Kalo aku nggak mau” godaku
“Pleese” Desi memelas
Tanpa menjawab lagi kusapukan penisku ke vaginanya dan mendorongnya masuk perlahan lahan.
“Pelan pelan Om, ini pertama kali aku nggak pake kondom” katanya pelan ketika penisku mulai menerobos liang kenikmatannya.
Kutelungkupkan tubuhku menindih tubuhnya setelah penisku masuk semuanya, pantatku mulai turun naik di atas tubuhnya, desah kenikmatan mengiringi kocokanku. Febi bergeser di belakangku, rupanya dia mengatur kaki Desi, diletakkannya menjepit pinggangku, penisku makin dalam mengisi liang kenikmatannya. Kukocok dia dengan cepat dan keras, kuhentakkan sedalam mungkin, tak kupedulikan desahan kenikmatannya, aku ingin segera membuatnya orgasme dan secepatnya beralih ke tubuh keponakanku yang sedang menunggu giliran. Diluar dugaanku, ternyata Desi tidak segera orgasme seperti perkiraanku, gerakannya malah semakin liar mencengkeramku, justru hampir saja aku keluar duluan kalau tidak segera kuhentikan gerakanku dan kucabut penisku dari vaginanya.
Desi tersenyum penuh kemenangan melihat aku hampir kalah, kuambil napas dalam dalam lalu kutahan dan kuhembuskan pelan pelan. Febi sudah bersiap di sampingnya dengan posisi nungging, kuturunkan teganganku dengan menciumi pantat Febi, menjilati vagina dan anusnya, dia menggeliat geli, kukocok vaginanya dengan dua jariku, dia mendesis. Setelah kurasa aku siap maka langsung kumasukkan penisku ke liang Febi dengan sekali dorong disusul kocokan cepat, dia menjerit nikmat lepas.
“Des, remas dadanya” perintahku sambil mengocoknya keras, Desi memandangku bingung, kuraih tangannya dan kuletakkan di dada Febi, kedua gadis itu kelihatan risih tapi aku tak peduli, kupaksa Desi meremasnya. Akhirnya Febi bisa menerima remasan Desi di buah dadanya, aku makin bergairah melihatnya, apalagi ketika Desi meremas kedua buah dada yang menggantung itu. Nafsuku makin meninggi ketika Febi membalas meremas buah dada Desi, mereka saling meremas buah dada.
Aku terkejut ketika Febi mengambil inisiatif lebih jauh, tiba tiba dia menciumi buah dada Desi dan menjilati putingnya, mulanya Desi tertawa geli menerima hal itu, tapi kemudian dia ikutan mendesah dan meremas rambut Febi yang ada di dadanya. Aku makin bergairah dibuatnya, kocokanku makin cepat dan liar, seliar sedotan Febi pada buah dada sahabatnya. Desi menyusupkan tubuhnya di bawah Febi, kepalanya tepat di bawah bukit yang menggantung, mereka saling mengulum buah dada seperti permainan lesbi meski aku yakin mereka bukan golongan itu.
Imajinasiku makin liar melihat kenakalan mereka, kuminta Desi nungging di atas Febi, tubuhnya menempel rapat di punggungnya, memeluk rapat dari belakang, vaginanya tepat di atas pantat Febi, masih tetap mengocok Febi kumasukkan dua jariku ke liang kenikmatannya, kedua gadis itu mendesah bersahutan. Kutarik keluar penisku dan segera beralih ke liang kenikmatan di atasnya, masih saja kurasakan rapatnya vagina Desi, nikmat yang berbeda dari dua vagina. Kocokanku berpindah dari satu vagina ke vagina lainnya. Aku tak tahu harus mengakhirinya di mana, hampir saja aku orgasme ketika tiba tiba kudengar bunyi HP-ku. Ingin kuabaikan tapi deringnya terasa mengganggu.
“Terima dulu Om, siapa tahu penting, atau mungkin dari Mbak Lily” kata Febi ketika aku sedang mengocok vagina di atasnya.
Terpaksa kutinggalkan kedua vagina yang sedang penuh gairah itu, benar saja istriku menelpon, aku menjauhi mereka, duduk di sofa supaya tidak terdengar suara napas mereka yang sedang ngos-ngosan. Kedua gadis itu menyusulku, Desi bersimpuh di antara kakiku sedangkan Febi duduk di sebelahku, menempelkan telinganya di HP, ikutan mendengar pembicaraanku dengan tantenya, sambil tangannya mengocok penisku bersamaan dengan lidah dan mulut Desi yang menari nari di penisku yang masih menegang. Handphone kuberikan ke Febi ketika istriku mau bicara padanya, akupun tak mau berlama lama bicara sama istriku dalam keadaan seperti ini, bisa bisa bicara sambil mendesah.
“Ya Mbak, ini Om mau antar Febi pulang, udah malam, lagian besok kan kuliah.. agak siang sih, jam 11 pagi kuliahnya.. tapi Febi belum pamit sama ibu Kost, ntar dicari”
Untungnya Febi mengikuti pembicaraan kami tadi hingga bisa langsung nyambung, kubalas Febi dengan mengulum putingnya ketika bicara sama tantenya, dia melototiku.
“..oke deh Mbak, nanti Febi telpon ke kost deh” jawabnya mengakhiri pembicaraan.
“Nakal ya, awas Febi balas” katanya lalu jongkok di sebelah sahabatnya, bersamaan mereka mengulum penisku, lidah kedua gadis itu menyusuri penisku kembali, aku mendesah sambil meremas rambut keduanya. Begitu nikmat permainan dua lidah, apalagi ketika bibir keponakanku mulai meluncur di batang kemaluanku, sementara sobatnya mempermainkan kantong bola dengan lidahnya, membawaku melayang tinggi dalam kenikmatan.
Akhirnya aku menyerah dalam permainan dua mulut mereka, menyemprotlah spermaku ketika berada di mulut Desi, segera dia menarik keluar tapi terlambat, beberapa semprotan sudah membasahi tenggorokannya. Febi segera meraih penisku dan langsung memasukkan ke mulut mungilnya, semprotanku sempat mengenai wajah dan rambut Desi sebelum akhirnya habis dalam kuluman keponakanku, sedikit tetesan keluar dari celah bibirnya, dia menyedot habis semburan demi semburan hingga tetes terakhir tanpa mengeluarkan dari mulutnya. Kedua gadis itu lalu menyapukan penisku yang sudah lemas ke wajahnya.
Malam itu kuhabiskan dengan mengarungi lautan kenikmatan bersama keponakanku dan sahabatnya, sepertinya mereka tak ada kata puas merengkuh kenikmatan demi kenikmatan, bergantian aku harus melayani mereka sampai kewalahan melayaninya, tapi dengan bantuan film VCD yang kami putar di Laptop, sedikit banyak aku bisa mengimbangi permintaan mereka. Entah jam berapa kami baru bisa tertidur, “terpaksa” aku pulang dengan pesawat terakhir ke Jakarta besoknya, “tak tega” meninggalkan keponakanku tercinta berikut sobat karibnya.
Pesanku sebelum meninggalkannya di airport, jangan merusak rumah tangga orang, jangan merebut suami orang, dan yang paling penting, jangan sampai hamil. Suatu pesan yang tak layak disampaikan seorang paman kepada keponakannya, apa boleh buat, tak mungkin aku menyadarkan Febi dari kelakuannya kalau aku sendiri berperilaku sama, bahkan meniduri keponakanku.

Ranting Patah – 3

April 28, 2008

“Febi, jangan”, teriakku.
Tapi terlambat, penisku sudah meluncur masuk ke vagina keponakanku tanpa kondom, sudah terjadi, ada rasa sesal meskipun sedikit sekali. Tapi rasa sesal segera berubah menjadi heran karena begitu mudahnya penisku menerobos liang vaginanya, tidak seperti Desi yang cukup sempit dan kesakitan, tapi Febi sepertinya tidak ada rasa sakit sama sekali ketika vaginanya terisi penisku yang berukuran 17 cm itu. Bahkan dia langsung mengocok dan menggoyang dengan cepatnya seolah tak ada halangan dengan ukuran penisku seperti yang dialami Desi. Goyangan pinggul Febi lebih nikmat dari Desi tapi sepertinya vagina Febi tidak sesempit Desi, tidak ada kurasakan remasan dan cengkeraman otot dari vaginanya, hanya keluar masuk dan gesekan seperti biasa, dalam hal ini vagina Desi lebih nikmat, itulah perbedaan antara Desi dan Febi, meskipun keduanya sama sama nikmat.

Desi turun dari mukaku, kuraih buah dada montok Febi dan kuremas remas gemas penuh nafsu, kutarik Febi dalam pelukanku, kukocok dari bawah dengan cepatnya, desahannya begitu bergairah di telingaku.
“Oh.. yess.. enak banget Om truss.. Febi kaangeen.. Febi cemburuu.. Febi sayang Om.. udah lama Febi menunggu kesempatan ini” desahnya.
Aku kaget ternyata disamping cinta seorang keponakan dia juga menyimpan cinta layaknya seorang gadis pada lawan jenisnya. Kami bergulingan, kini aku di atasnya, kunikmati ekspresi kenikmatan wajah cantik keponakanku yang sedang dilanda birahi tinggi, desahannya makin keras dan liar, rasanya lebih liar dari yang kulihat tadi siang membuatku makin bernafsu mengocok lebih cepat dan lebih keras. Dengan gemas kuciumi pipi Febi, tidak dengan perasaan kasih sayang seperti biasanya tapi penuh dengan perasaan nafsu, kususuri leher jenjangnya yang putih mulus, baru sekarang kusadari betapa menggairahkan tubuh keponakanku ini. Febi menggelinjang dan menjerit ketika lidahku mencapai puncak buah dadanya, kupermainkan putingnya yang kemerahan, dengan kuluman ringan kusedot buah dadanya, itulah yang membuat dia menggelinjang hebat penuh nikmat.
Desi memelukku dari belakang, diciuminya tengkuk dan punggungku, dalam keadaan normal bercinta dengan dua wanita cantik tentulah menyenangkan tapi ini keadaan khusus dimana pertama kali aku mencumbu keponakanku tercinta, aku ingin menikmatinya secara total, keterlibatan Desi sebenarnya kurasakan mengganggu tapi aku tak bisa menyuruhnya pergi, karena dialah aku bisa menikmati tubuh sexy Febi. Tanpa menghiraukan pelukan Desi, kuangkat kedua kaki Febi kepundakku, dengan meremas kedua buah dadanya sebagai pegangan aku mengocoknya keras dan cepat. Febi menjerit keras antara sakit dan nikmat, kepala penisku serasa menyentuh dinding terdalam dari vaginanya, tangannya mencengkeram erat lenganku, matanya melotot ke arahku seakan tak percaya aku melakukan ini padanya, tapi sorot matanya justru menambah tinggi nafsuku, dia kelihatan makin cantik dengan wajah yang bersemu merah terbakar nafsu, lebih menggairahkan dan menggoda, makin dia melotot makin cepat kocokanku, makin keras pula jerit dan desah kenikmatannya. Dan tak lama kemudian dia sampai pada puncak kenikmatan tertinggi.
“Truss.. Om.. Febi mau keluar ya.. truss.. fuck me harder” dia mendesis indah, dan dengan diiringi jeritan kenikmatan panjang dia menggoyang goyangkan kepalanya, cengkeraman di lenganku makin erat, tubuhnya menegang, dia telah mencapai orgasme lebih dulu, kunikmati saat saat orgasme yang dialami Febi.
Inilah pertama kali aku melihat ekspresi orgasme dari keponakanku yang cantik, begitu liar dan menggairahkan, sungguh tak kalah dengan tantenya, istriku. Tubuh Febi perlahan mulai melemah, kuturunkan kakinya dari pundakku lalu kukecup bibir dan keningnya.
“Makasih Om, ini orgasme terindah yang pernah kualami, nanti lagi ya, aku ingin merasakan Om keluar di dalam” katanya mendorong tubuhku turun dari atas tubuhnya.
Desi sudah sampingnya bersiap menerimaku, posisi menungging dengan kaki dibuka lebar, penisku yang masih tegang siap untuk masuk ke vagina lainnya. Rupanya Desi tak pernah melupakan pengamannya, dia memberiku kondom sebelum penisku sempat menyentuh bibir vaginanya, sementara Febi tak peduli dengan hal itu, aku tak khawatir karena memang tidak berniat memuntahkan spermaku di vagina keponakanku. Febi memasangkan kondom di penisku dan kembali untuk kesekian kalinya penisku menguak celah sempit di antara kaki Desi, sungguh sempit, meski udah beberapa kali kumasuki tapi masih tetap saja terasa mencengkeram pada mulanya.
Berbeda dengan punya Febi yang langsung bisa “melahap” semuanya, Desi meringis sebentar saat penisku kudorong menguak vaginanya, cukup lama sebelum akhirnya aku bisa mengocoknya dengan normal, sesekali hentakan keras menghunjam membuatnya teriak entah sakit atau enak. Kupegangi pantatnya yang padat berisi, kocokanku makin cepat, desahan Desi begitu juga makin keras terdengar, kuraih buah dadanya yang menggantung dan kuremas sambil tetap mengocoknya. Terus terang setelah merasakan nikmatnya bercinta dengan keponakanku, terasa Desi begitu hambar, padahal saat pertama tadi dia begitu menggairahkan, kini aku hanya berusaha untuk memuaskan dia sebagai balas jasa dan secepat mungkin mencapai orgasme dengannya supaya berikutnya aku bisa lebih “all out” dengan Febi.
Kocokan kerasku membawa Desi lebih cepat ke puncak kenikmatan, tangan Desi dan Febi saling meremas, teriakan orgasme Desi mengagetkanku, apalagi diiringi dengan denyutan dan remasan kuat dari vaginanya, penisku seperti diremas remas, sungguh nikmat yang tak bisa kudapat dari Febi, akhirnya akupun harus takluk pada kenikmatan cengkeraman vagina Desi, menyemprotlah spermaku di dalam vaginanya. Kembali dia menjerit merasakan denyut kenikmatan penisku, kami saling memberi denyutan nikmat, lebih nikmat dari yang kudapat tadi. Tubuhku langsung ambruk di atas punggun Desi, kami bertiga telentang dalam kenangan dan kenikmatan indah. Aku telentang di antara dua gadis cantik yang menggairahkan, Desi melepas kondom, sungguh tak menyangka kalau aku akhirnya bercinta dengan keponakanku sendiri yang sangat sexy dan menggairahkan. Diusianya yang belum 23 tahun dia terlalu pintar bermain sex apalagi permainan oralnya, sungguh sukar dipercaya kalau dia mampu melakukannya dengan sangat baik.
Setelah kudesak akhirnya dia mengakui bahwa dia sudah sering melakukannya sejak setahun yang lalu. Pertama kali yang menikmati keperawanannya adalah P. Freddy, dosennya sendiri, seorang duda berumur hampir 50 tahun, orangnya jauh dari simpatik, justru lebih mendekati sadis, karena wajahnya tipikal orang maluku yang keras. Untuk mendapatkan nilai lulus dari dia akhirnya Febi harus menyerahkan keperawanannya, kalau tidak dia tidak akan bisa melewati tahap persiapan yang berakibat Drop Out. Dengan perasaan jijik Febi menyerahkan kehangatan dan kesuciannya pada si tua bangka, seminggu sekali dia terpaksa harus melayani nafsu bejat si dosen, setelah berjalan dua bulan dan merasakan nikmatnya bercinta akhirnya keterpaksaan itu berubah menjadi ketergantungan, bukan lagi P. Fredy yang memaksa tapi terkadang justru Febi yang minta karena dia tidak mungkin melakukannya dengan orang lain. Hingga akhirnya dia menemukan teman kuliah pujaan hati, tapi begitu sampai ke urusan sex ternyata Febi masih tidak bisa melupakan keperkasaan P. Fredy, jadi dia tetap melakukannya dengan si dosen untuk mendapatkan kepuasan, pacarnya tidak pernah memperlakukan Febi seperti yang dilakukan P. Fredy, perlakuannya begitu sabar dan kebapakan dan dia selalu memenuhi apa yang Febi inginkan, tak pernah memaksa dan selalu sopan di ranjang, begitu romantis hingga Febi makin terhanyut dalam pesona si dosen, dari keterpaksaan menjadi ketergantungan. Semua berakhir setelah P. Fredy mendapat Profesor dan promosi dipindah tugas ke Ujung Pandang. Untuk memenuhi ketergantungannya Febi sering melakukannya dengan pacarnya, tapi sosok permainan sex seperti P. Fredy tak pernah dia dapatkan dari sang pacar. Entah sudah berapa kali dia ganti pacar, tak pernah lebih dari 3 bulan mereka pacaran, selalu diawali dan diakhiri di ranjang.
Cerita Febi sungguh mengagetkanku, rupanya selama ini aku dan istriku terlalu memandang enteng masalah yang dihadapi Febi, tak pernah memberi solusi yang kondusif, kini baru kusadari hal itu. Istriku pernah cerita kalau Febi ingin mendapatkan suami seperti Om-nya, aku, sabar penuh pengertian dan kebapakan, hal yang tidak pernah dia terima dari ayah kandungnya. Diam diam dia mengagumiku, aku tak menyangka kalau kekagumannya ternyata lebih jauh dari sekedar seorang Om.
“Om Febi cemburu sekali ketika melihat Om sama Mbak Lily bercinta, begitu penuh perasaan dan gairah” katanya sambil kepalanya disandarkan di dadaku.
“Oh ya? kapan dan dimana” tanyaku kaget
“Di rumah, ketika direnovasi, hampir tiap kali aku mendengar desahan dari Mbak Lily aku naik dan mengintip dari celah celah bangunan yang belum selesai itu, setelah itu aku tak bisa tidur sampai pagi, sejak itu aku bertekad untuk bisa merasakan nikmat seperti itu dari Om, bahkan aku ingin lebih dari itu” katanya.
Berarti sejak dia kelas 3 SMA dia sudah melihat kami berhubungan.
Mendengar penuturan Febi gairahku kembali naik, penisku menegang dalam genggaman Febi, Desi tertidur di samping kami, mungkin kelelahan setelah mendapat 2 kali orgasme berurutan dariku.
“Di sofa yuk Om, Febi udah lama nggak bermain di sofa sejak terakhir kali dengan P. Fredy” ajaknya seraya bangun dan menarikku.
Febi langsung duduk di sofa dan membuka kakinya, aku tak mau langsung melakukannya, kucium bibirnya lalu turun ke leher dan berhenti di kedua bukitnya, dengan gemas kuciumi bukit di dadanya, kombinasi jilatan dan kuluman membuat dia mendesah.
Sengaja kutinggalkan beberapa bekas kemerahan di buah dadanya supaya dia berhenti melakukan dengan pacarnya untuk beberapa hari. Dia cemberut ketika tahu ada kemerahan di dadanya tapi justru kecemberutannya makin menambah kecantikan wajahnya. Bibirku menyusuri perutnya lalu berhenti di selangkangannya, terasa asin ketika lidahku menyentuh vaginanya, mungkin cairan ketika dia orgasme tadi. Tangannya meremas rambutku ketika lidahku menari nari di bibir vaginanya, kakinya menjepit kepalaku, aku makin bergairah mempermainkan vaginanya dengan bibirku.
“Udah.. udah.. Om.. sekarang.. Febi udah nggak tahan nih” desahnya menarik rambutku.
Aku berdiri, kusodorkan penisku ke mulutnya, dia menggenggam dan mengocoknya, memandang ke arahku sejenak sebelum menjilati dan memasukkan penisku ke mulutnya. Tanpa kesulitan, segera penisku meluncur keluar masuk mulut mungil keponakanku yang cantik, kembali kurasakan begitu pintar dia memainkan lidahnya. Antara jilatan, kuluman dan kocokan membuatku mulai melayang tinggi. Puas dengan permainan oral-nya, aku lalu jongkok di depannya, dia menyapukan penisku ke vaginanya, dia menatapku dengan pandangan penuh gairah, aku jadi agak malu memandangnya, namun nafsu lebih berkuasa, dengan sekali dorong melesaklah penisku kembali ke vaginanya, dia masih tetap menatapku ketika aku mulai mengocoknya. Kakinya menjepit pinggangku, kutarik dia dalam pelukanku, kudekap erat hingga kami menyatu dalam suatu ikatan kenikmatan birahi, saling cium, saling lumat.
Febi mendesah liar seperti sebelumnya, kurebahkan dia di sofa lalu kutindih, satu kaki menggantung dan kaki satunya dipundakku. Aku tak pernah bosan menikmati ekspresi wajah innocent yang memerah penuh birahi, makin menggemaskan. Buah dadanya bergoyang keras ketika aku mengocoknya, dia memegangi dan meremasnya sendiri. Kuputar tubuhnya untuk posisi doggie, dia tersenyum, tanpa membuang waktu kulesakkan penisku dari belakang, dia menjerit dan mendorong tubuhku menjauh, kuhentikan gerakanku sejenak lalu mengocoknya perlahan, tak ada penolakan. Kupegang pantatnya yang padat berisi, Febi melawan gerakan kocokanku, kami saling mengocok, dia begitu mahir mempermainkan lawan bercintanya.
Aku bisa melihat penisku keluar masuk vagina keponakanku, kupermainkan jari tanganku di lubang anusnya, dia menggeliat ke-gelian sambil menoleh ke arahku. Kuraih buah dadanya yang menggantung dan bergoyang indah, kuremas dengan gemas dan kupermainkan putingnya. Aku sepertinya benar benar menikmati tubuh indah keponakanku dengan berbagai caraku sendiri, ada rasa dendam tersendiri di hatiku, kalau orang lain telah menikmatinya, aku sebagai orang yang membesarkannya tentu ingin menikmatinya lebih dari lainnya, tak ada yang lebih berhak dari aku. Kuraih tangannya dan kutarik kebelakang, dengan tangannya tertahan tanganku, tubuh Febi menggantung, aku lebih bebas melesakkan penisku sedalam mungkin. Desah kenikmatan Febi mekin keras memenuhi kamar ini. Kudekap tubuhnya dari belakang, kuremas kembali buah dadanya, penisku masih menancap di vaginanya, kuciumi telinga dan tengkuknya, geliat nikmat Febi makin liar.
“Aduh oom.. enak banget Omm, Febi sukaa, trus Om”


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.